Yesus Berdoa

Pernah kita mendengar atau pernah membaca doa seorang Jendral kepada sang putera? Siapakah Jendra tersebut? Jendral Doughlas Mac Arthur pada masa Perang Dunia kedua tahun 1944 berdoa kepada Tuhan untuk sang putera yang berusia 14 tahun. Dia seorang Jendral yang hebat, terkenal di segani kawan dan lawan, tetapi juga seorang ayah yang baik yang mendidik sang putera. Tetapi dalam segala keterbatasannya dia tahu, bahwa hidupnya adalah hidup yang penuh resiko tinggi, apakah esok ia akan hidup ataukah mati? Ia tidak tahu. Ia mengandalkan Tuhan yang memiliki kekuasaan tak terbatas baik dalam hidupnya dan terutama juga untuk hidup sang putera. Doa yang mengungkapkan segenap harapannya atas sang putera terkasih. Dan ketika semua hal itu terwujud, ia mengatakan bahwa hidupnya tidak sia-sia.

Doa untuk Puteraku

Tuhanku
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang sabar dan tabah dalam kekalahan.
Tetap jujur dan rendah hati dalam kemenangan.
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai
dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.
Putera yang berhasrat
untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya
Berikan dia cukup rasa humor
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku
Berilah ia kerendahan hati

Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki

Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Doa di atas mirip seperti doa Yesus ketika ia yang sangat mengasihi para murid-Nya dan Ia harus mempersiapkan murid-Nya sebelum Ia pergi ke Surga. Tongkat estafet itu diserahkan ke para murid. Dulu ketika Tuhan Yesus hidup di dunia, semua mata kekaguman, tetapi juga kebencian terarah kepada-Nya, sekarang mata-mata itu terarah kepada para murid-Nya. Ia berdoa di dalam Yohanes 17. Lalu apa yang diminta Tuhan Yesus kepada sang Bapa untuk para murid-Nya :

  1. Para murid-Nya adalah milik-Nya, artinya memuliakan nama Tuhan, masuk didalam proses, rencana agung-Nya, proses pembentukan.
  2. Peliharalah mereka dalam nama-Mu, agar mereka tidak binasa (bukannya sama sekali murid tidak boleh mati, tetapi lebih tepatnya tidak akan mengalami kebinasaan kekal)
  3. Melindungi mereka daripada yang jahat, maknanya mereka mengikuti yang baik dan menjauhkan diri dari yang dilarang. Bukan berarti membebaskan diri dari segala tantangan tetapi, meskipun mereka dalam dunia yang cemar, kejahatan, dikuasai Iblis, mereka tetap mempermuliakan nama Tuhan.
  4. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, firman-Mu adalah kebenaran, mereka senantiasa berpedoman dalam firman Tuhan dalam menjalankan tugas mereka menjadi saksi-saksiNya.

Doa itu bukan hanya tertuju kepada para murid-Nya saja tetapi juga kepada kita semua orang yang percaya kepada-Nya. Marilah kita melakukan pekerjaan-Nya dan tidak mengecewakan Tuhan Yesus, sehingga Tuhan Yesus berkata, “hidup-Ku tidaklah sia-sia”

Salam hangat,

Pdt. Agnes Irmawati Sunjoto Lukardie