TOPENG

Setiap kita pastinya mengerti apa itu topeng. Yaitu sebuah benda yang selalu ada di belahan bumi manapun di dunia. Benda yang menimbulkan pemahaman yang sama yaitu alat untuk menutup wajah sehingga wajah asli seseorang tidak nampak lagi, yang nampak adalah wajah yang ditampilkan sang topeng. Begitu beragam wajah yang ditampilkan topeng, beragam pula filosofi yang mengikuti wajah dari topeng, karena itulah filosofi dari topeng dapat ditampilkan dalam wujud puisi, drama, film, buku, karangan sastra yang indah, yang menakutkan, yang ironis. Berbagai karya ditampilkan hanya karena sebuah benda yang bernama topeng.

Topeng juga merupakan benda yang pada umumnya dimaknai sebagai cara untuk menyembunyikan kondisi atau hakekat sesungguhnya dari seorang manusia. Seorang yang sedih dapat bersembunyi dalam topeng keceriaan. Barangkali kita ingat seorang komedian Hollywood yang terkenal yaitu Robin William yang filmnya dianggap menghibur karena kejenakaan dan keceriaan yang ditampilkan, tetapi kemudian dunia dikejutkan dengan kematiannya akibat bunuh diri karena ternyata dia menyimpan banyak kepahitan dalam hidup. Konon banyak juga badut sirkus yang lucu ketika tampil, ternyata hidupnya sendiri penuh dengan kepedihan dan duka. Dalam ilmu psikologi bisa juga topeng manusia disebut sebagai ALTER EGO, yaitu ego pengganti dari pribadi manusia ketika hendak menyembunyikan diri yang sesungguhnya atau bahkan menampilkan pribadi kedua dari seseorang. Topeng melambangkan juga kebohongan yang hendak disembunyikan, melambangkan kepalsuan.

Bangsa Israel adalah bangsa yang tidak luput hidupnya dari topeng-topeng kepalsuan. Kaum Farisi senang mencari dan memeriksa kesalahan umat Yahudi dalam beribadah tetapi pada sisi yang lain mereka membuat banyak peraturan yang memberatkan rakyat jelata dan menguntungkan diri sendiri. Kepalsuan hati dalam ketaatan dan rasa hormat kepada Tuhan menghinggapi banyak sekali kaum Farisi, ahli Taurat bahkan para Imam. Sebaliknya rakyat juga dilingkupi dalam hidup yang penuh kepalsuan karena banyak dari mereka beribadah dan taat pada hukum bukan karena muncul dari hati yang taat dan setia, tetapi lebih pada hati yang takut pada para ahli Taurat dan Farisi yang sangat pandai mencari kesalahan. Berpuluh hukum dibuat tetapi berpuluh hukum juga dipatahkan dengan akal licik, selalu ada celah untuk tidak taat dan ada saja alasan yang dibuat, masuk akal pula alasan tesebut. Intinya sebenarnya hanya satu yaitu semua hal ingin dijalankan menurut keinginan dan kepuasan diri sendiri. Karena itulah baik petinggi maupun rakyat banyak sekali yang menggunakan topeng untuk mengharmonisasikan situasi dan kondisi, tetapi semuanya palsu. Pada dasarnya pemakaian topeng ini hanya untuk menutup keadaan asli dari diri maupun pribadi seseorang.

Inilah hal yang dilihat Yesus dan kemudian dikritisi Yesus dengan menekankan hidup penuh kejujuran yaitu, “Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak ...”. Sikap jujur yang harus dimiliki dan diawali dari dalam hati dan iman seseorang, bagi Yesus sikap baik bukan karena untuk menutupi ketidakbaikan, berdoa bukan untuk dianggap sebagai umat yang taat, mengampuni bukan untuk supaya jangan ribut padahal masih dendam. Bagi Yesus setiap manusia percaya harus mampu hidup dengan pribadi yang dilatih dalam ketaatan dan iman. Bukan dalam kepalsuan dan kepura-puraan.

Hari ini MINGGU, 31 Desember 2017 adalah hari terakhir kita menjalani tahun 2017, semua hari dan peristiwa dibelakang hidup kita akan menjadi sejarah. Sejarah yang seharusnya mengajarkan kepada kita semua apakah dan berapakah topeng yang sudah kita pakai selama ini? Topeng apa saja yang ternyata sudah menjadi ALTER EGO yang menyembunyikan diri kita yang sesungguhnya. Sejarah tentu saja diingat bukan untuk diratapi dan disesali tetapi sejarah mengajarkan kita untuk ke masa depan kita menjadi lebih baik. Sebagai umat Tuhan sejarah tahun 2017 mengajak kita meninggalkan topeng dan kepalsuan akan ibadah kita kepada Tuhan. Kejujuran berdasarkan iman dan kasih kepada Yesus Kristus itulah yang harus mendasari perjalanan hidup di tahun 2018, tentu saja dengan demikian harus ada keberanian meninggalkan egoisme diri yang tinggi.
Bacalah ucapan bahagia yang tertulis dalam Injil Matius ... upayakan kita mengerti upayakan juga kita melakukannya dengan dasar Kasih yang besar pada Yesus Kristus.

 

TPG. Esther Solichin