Tetap Menjadi Teladan Di Masa Sulit

 

1 Tesalonika 1 : 1-10

 

Kita adalah bagian dari sebuah situasi dan kondisi dunia saat ini, bagian yang mau tidak mau harus kita jalani tanpa kita bisa menghindar.

Kita bisa saja memandang situasi dan kondisi dunia kita ini sebagai arena pertandingan atau rimba yang penuh ancaman maka kemungkinan yang terjadi adalah kita memandang sesama, peluang hidup, kesempatan dan waktu yang kita jalani seperti seorang yang berjuang untuk memenangkan pertandingan, atau seorang yang sedang berada di rimba yang penuh bahaya, segala sesuatu yang ada di sekitar dan di hadapannya adalah saingan dan rintangan bahkan bahaya, karena itu kita akan menjadi seorang yang mungkin saja menghabiskan waktu dan tenaga serta pikiran untuk mengatasi dan melampaui situasi yang ada.

Dalam situasi seperti ini, sesama kita adalah saingan, atau lawan kalaupun menjadi kawan haruslah kawan yang memberi keuntungan. Apabila ini yang terjadi betapa lelahnya hidup kita karena jauhlah kedamaian dan sukacita dari dalam diri kita. Hidup bisa saja diliputi dengan tekanan ketakutan, kecemasan, keuntungan untuk diri pribadi, menonjolkan diri sendiri, sikut kiri dan kanan, perkataan yang diucapkan pun bisa saja saling melukai agar saingan dan bahaya runtuh dan tidak menjadi penghalang.

Paulus melalui surat 1 Tesalonika 1 : 1-10 ini mengajak Jemaat di kota ini menjalani hidup sebagai sebuah ziarah iman di dalam dan di pandu oleh Yesus Kristus.

Memang dalam perjalanan ziarah iman ini seseorang pasti masuk juga dalam arena pertandingan, bisa juga masuk dalam rimba yang berbahaya.

Tetapi yang pasti, dalam panduan Yesus, seseorang akan berjalan juga di Padang yang berumput hijau dan berair tenang.

Dalam ziarah iman, ketika masuk arena pertandingan ataupun rimba yang berbahaya, seseorang tidak berorientasi hidup hanya untuk kepemuasan diri saja melainkan berjuang bersama sesama yang lain melampaui kesulitan dalam hidup saling menopang, memperhatikan, mengalahkan ego, mau berkorban, berbagi, mengangkat yang jatuh, tidak saling menyakiti satu terhadap yang lain.

Menjadi teladan di masa sulit adalah sebuah refleksi kita akan kehidupan kita. Perjalanan hidup kita ini ada dimana? Dalam arena pertandingan, rimba berbahaya ataukah ziarah iman dalam panduan Yesus Kristus? Diri kita pribadilah penentunya.

 

 

TPG. Esther Solichin