Tanggung Jawab Dalam Anugerah Allah

Sebab oleh kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.
(Efesus 2
: 8)

Yustinus Martir adalah seorang filsuf yang hidup sekitar 1800 tahun yang lalu. Dikenal akan karangannya yang disebut apologies atau tulisan klasik dalam kesusastraan Kristen. Dia awalnya adalah seorang filsuf yang cukup dikenal pada zamannya namun akhirnya memilih untuk mengabarkan tentang Kristus dan meninggalkan ajaran filsafat yang selama ini dikenalnya. Dia ditangkap pada tahun 163 dan dihukum mati atas apa yang telah dilakukannya.

Kisah Yustinus menggambarkan sebagian kecil dari apa yang telah murid-murid Kristus alami pada masa lalu sebagai akibat dari pemberitaan Injil dan berita keselamatan bagi seluruh umat manusia. Kita patut bersyukur karena orang-orang seperti inilah akhirnya kita dapat mengenal Kristus dan menerima anugerah keselamatan dalam hidup kita. Lalu bagaimana kelanjutan dari kisah ini?

Suatu kali seorang teman pernah mengungkapkan pertanyaan tentang apa sebenarnya makna pelayanan? Banyak dari kita yang terlibat dalam pelayanan gerejawi, sebagai penatua, pengurus komisi, terlibat dalam berbagai kegiatan gerejawi sebagai aktifis ataupun sebagai jemaat yang aktif berdoa bagi gereja. Semua ini memang wujud ungkapan syukur atas anugerah keselamatan yang Allah berikan bagi kita.

Setiap tahun saat merayakan Paskah, kita diingatkan kembali akan penebusan Kristus bagi kita selaku umat-Nya. Karena itu Masa Raya Paskah tidak berhenti hanya pada saat Yesus bangkit dari kematian, tetapi juga berlanjut sampai pada kenaikan Yesus dan hari Pentakosta. Anugerah pengampunan dari Allah sesungguhnya adalah hal yang sangat mahal. Dengan mudahnya Allah bisa menghapus dosa manusia sama seperti ketika Allah berfirman pada hari penciptaan dunia. Tetapi yang menakjubkan adalah Allah justru memilih untuk mengutus Putra-Nya turun ke dalam dunia untuk menebus dosa manusia.

Karena itu, mari kita sikapi anugerah pengampunan Allah ini dengan tindakan aktif. Seperti Yustinus dan para murid lainnya. Kebenaran memang bukan hal yang mudah disukai olah banyak orang. Sebagai contoh ketika kita harus bersikap jujur dan berpihak pada kebenaran seringkali justru banyak orang yang tidak menyukainya. Bahkan ada pepatah “Yang kuat yang berkuasa,” sehingga orang berlomba-lomba dengan segala cara untuk menjadi “kuat” sehingga dapat menguasai dan mengendalikan orang-orang di sekitarnya.

Tetapi mengingat kembali akan anugerah pengampunan yang telah kita terima, mari kita kembali pada kebenaran hakiki kita sebagai murid-murid Kristus, memaknai kembali anugerah pengampunan yang diberikan Allah dalam hidup kita. Hal ini dapat dilakukan dengan sikap proaktif yaitu menjadi jemaat yang peduli dengan sesama dan alam ciptaan Allah, mau berbagi dan sukacita melayani. Tuhan Yesus memberkati.

TPG. Paramita A. S.Si-Teol