Tak Pernah Bosan

(Kolose 3 : 8-10)

              Suatu hari seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu : “Sebenarnya apa itu perasaan bosan, Pak Tua?”
Pak Tua : “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”
Tamu : “Kenapa kita merasa bosan?”
Pak Tua : “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”
Tamu : “Bagaimana menghilangkan kebosanan?”
Pak Tua : “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu maka kitapun akan terbebas darinya.”
Tamu : “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”
Pak Tua : “Tanyalah pada dirimu sendiri : mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama setiap hari?”
Tamu : “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda. “
Pak Tua : “Benar sekali, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”

Lalu tamu itu pergi. Beberapa hari kemudian tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu : “Pak Tua, saya sudah melakukan apa yang anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”
Pak Tua : “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”
Tamu : “Contohnya?”
Pak Tua : “Mainkan permainan yang paling kamu senangi waktu kecil.”

Beberapa waktu kemudian, tamu itupun kembali menemui pak tua.

Tamu : “Pak Tua, saya melakukan apa yang anda sarankan, di waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah bosan meskipun dulu apa yang saya lakukan saya anggap sesuatu yang membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”

Sambil tersenyum Pak Tua berkata :

“Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri. Kebosanan itupun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan, berpikir ceria menyebabkan kau ceria.”

Seperti cerita tamu di atas, dalam hidup mungkin kita juga pernah merasa bosan atau jenuh dengan rutinitas hidup kita, bosan dengan pekerjaan yang itu-itu saja. Bahkan lebih parah lagi bosan dengan keadaan hidup yang seolah-olah tidak pernah berjalan sesuai dengan rencana kita.

Saya pernah berbicara dengan seorang teman yang berkata, “saya bosan terus berbuat baik sama orang, toh mereka juga tidak peduli dengan apa yang saya lakukan.” Sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa memang sebagai manusia kita selalu menginginkan untuk mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang kita lakukan. Terlebih kalau kita sudah berbuat baik. Kita akan menjadi mudah kecewa ketika melihat teman yang kita percaya ternyata telah berbohong pada kita, atau orang yang kita sayangi melukai hati kita.

Firman Tuhan mengingatkan kembali pada kita terutama dalam Kolose 3 : 8-10, “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

Menjadi manusia baru juga berarti menjadi manusia yang rela terus-menerus diperbaharui oleh Tuhan untuk menjadi segambar dengan Dia. Karena itu hendaknya kita juga menggunakan pikiran kita untuk terus-menerus mau diperbaharui dengan melakukan firman Tuhan dalam hidup kita. Hidup kita dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan, bukan tentang apa yang orang lain lakukan dan pikirkan tetapi tentang bagaimana diri kita berpikir dan bertindak. Jangan pernah bosan untuk berbuat baik dan melakukan perintah Tuhan dalam hidup kita. Penuhilah pikiran kita dengan segala hal yang baik dan kita akan terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar seturut dengan kehendak Allah.

Tuhan Yesus Memberkati.

TPG. Paramita A. S.Si-Teol