Taat Dalam Pencobaan

Lukas 4 : 1-13

 

Kata pencobaan, bagi sebagian besar orang dipahami sebagai sesuatu yang usil, jahil, tidak serius, atau nge-test. Dan dari sebagian besar itu sepakat bahwa kata pencobaan tidak cocok jika dilekatkan kepada Allah Sang Pencipta, tetapi lebih cocok bila disandingkan dengan Iblis si Raja Pendusta. Akan tetapi, jika menelaah Alkitab secara menyeluruh, maka kata ‘mencoba’ juga kita temukan berpadanan dengan apa yang dilakukan oleh Allah, contohnya ketika Allah mencoba Abraham atau juga ketika Allah mencoba bangsa Israel. Hanya perbedaannya, ketika Allah mencoba, ada tujuan yang baik yang hendak dicapainya, yaitu kedewasaan iman seseorang. Berbeda dengan iblis. Mencobai merupakan tugas dan pekerjaannya untuk menjatuhkan manusia. Namun, bukan berarti pencobaan yang dilakukan oleh Iblis tidak dapat dipergunakan oleh Allah untuk mendewasakan iman seseorang, contohnya Ayub. Pencobaan juga bisa menjadi metode digunakan Allah, untuk pertumbuhan diri memasuki tahap selanjutnya. Ada peran ilahi yang turut serta di dalam proses kehidupan seseorang yang sedang berada di dalam pencobaan.

Mengawali Masa Prapaskah ini, kisah Injil tentang Tuhan Yesus yang berpuasa di padang gurun dan dicobai, selalu diangkat menjadi landasan bagi kita untuk lebih menghayati masa-masa pencobaan. Menyadari bahwa pencobaan itu ada dan nyata bagi setiap orang, terutama orang-orang yang hendak memiliki komitmen hidup berkenan kepada Allah. Oleh sebab itu, ada 3 pedoman yang dapat kita pelajari dari kisah pencobaan di padang gurun yang dialami oleh Tuhan Yesus :

Pertama, terkadang jerat itu tampak seperti berkat. Pencobaan tidak selalu soal kesengsaraan, musibah, kecelakaan, atau hal-hal memprihatikan lainnya. Karena pencobaan saat ini mengambil bentuk yang lain, bahkan berkamuflase menjadi sesuatu yang tampak indah. Ini yang sering tidak disadari orang. Tawaran kesempatan, kenyamanan, kekuasaan, atau kelimpahan materi, semua itu diyakini sebagai berkat, tetapi tanpa sebuah kewaspadaan maka itu juga bisa menjadi jerat. Ketiga pencobaan yang ditawarkan iblis kepada Tuhan Yesus terlihat seperti berkat, tetapi sebenarnya itu adalah sebuah jerat. Oleh sebab itu, kesadaran diri sangat diperlukan agar kita tidak masuk dalam jerat yang tampak seperti berkat.

Kedua, kelelahan dapat membuat kita lemah, maka jangan sampai lengah. Kelelahan jasmani bisa menyebabkan kelelahan jiwa. Artinya peristiwa-peristiwa yang melelahkan bisa menguras emosi, sehingga jiwa pun ikut terbawa lelah. Di awal-awal pekerjaan berat, masih memiliki semangat yang tinggi, tetapi jika pekerjaan berat itu berlangsung cukup lama atau semakin berat, maka semangat mulai lelah dan rasanya ingin menyerah. Perlu sebuah kesadaran dan kewaspadaan bahwa saat lelah, maka kita menjadi lemah. Itulah sebabnya Iblis melancarkan serangannya ketika Tuhan Yesus lelah dan lapar setelah berpuasa 40 hari. Harapan Iblis pada saat keadaan lelah itulah Tuhan Yesus menjadi lemah. Yang dimaksudkan Iblis nampaknya bermaksud baik, tetapi sesungguhnya itu adalah pencobaan.

Ketiga, sadar bahwa ada celah kelengahan yang harus dijaga agar dosa tidak masuk. Dalam kisah Injil memang digambarkan bahwa Yesus secara tatap muka berhadapan dengan Iblis, tetapi dalam kehidupan sehari-hari Iblis itu tidak tampak nyata. Iblis yang menggoda itu bisa jadi adalah pikiran dan keinginan kita sendiri. Beberapa celah kelengahan yang digambarkan dalam kisah pencobaan ini adalah keinginan untuk membuktikan identitas atau harga diri, kuasa dan kemuliaan dalam kenyamanan, jalan pindah yang mudah/instan, dan rasionalisasi dengan mengutip Firman Tuhan/nilai kebenaran. Oleh sebab itu, marilah kita perlu untuk menjaga celah kelengahan, supaya tidak ditembus oleh dosa.

Pencobaan memang selalu datang, yang penting bukan siapa yang memberikannya, tetapi bagaimana respon kita terhadapnya. Respon yang tepat akan memberikan pertumbuhan iman yang baik bagi setiap pribadi masing-masing, tetapi respon yang salah akan menjatuhkan kita ke dalam penyesalan.

Pdt. Timothy Setiawan