SOLIDARITAS

Lukas 5 : 17-26

“Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus” (ayat 18)


Jika seseorang sudah berusia 74 tahun apa yang biasanya dilakukan? Umumnya orang akan menikmati hasil pensiunnya, memilih beristirahat di rumah, ada juga yang mungkin memilih pekerjaan yang tidak terlalu berat. Namun hal itu tidak dilakukan oleh seseorang yang bernama Bai Fang Li. Mulanya Bai merupakan seorang pensiunan yang kemudian sengaja melanjutkan hidupnya dengan pulang ke kampung halamannya. Ia terkejut melihat banyak anak usia sekolah bekerja di sawah, dan tidak sekolah dengan alasan tidak punya uang. Bai lalu menyumbangkan uang pensiunnya untuk anak-anak dikampungnya dan kembali ke Tianjin untuk menarik becak.

Sejak tahun 1987 Bai terus mengayuh becaknya untuk mengumpulkan uang. Hidup lebih sulit dari sebelumnya, ia memutuskan memakai pakaian bekas, makan seadanya, tinggal di gubuk dan bekerja lebih keras agar dapat memenuhi target membayar uang sekolah pada waktunya. Sebagai penarik becak tua ia telah mendonasikan uang sebanyak 350.000 yuan atau sekitar 450 juta rupiah sejak tahun 1987 hingga 2005 kepada sebuah sekolah di kampung halamannya. Dari sumbangannya sebanyak 300 anak tidak mampu berhasil melanjutkan sekolah. Bai Fang Li memiliki rasa solidaritas yang sangat tinggi. Walau tubuhnya tidak lagi perkasa, perawakannya juga kecil, orangnya sudah tua, tapi semangat untuk menolong orang lain perlu diajungi jempol.

Solidaritas berarti seperasaan, setia kawan. Bentuk solidaritas juga muncul dalam cerita “Orang Lumpuh disembuhkan”. Dikisahkan ada beberapa orang yang datang menolong temannya yang lumpuh untuk bertemu Yesus. Mereka yakin bahwa Yesus pasti menyembuhkan temannya. Sayangnya, mereka tidak dapat masuk, karena pintu rumah tempat Yesus berada tertutup oleh banyaknya orang yang hadir. Tidak ada jalan untuk membawa temannya yang sakit berjumpa dengan Yesus. Ketika mereka sadar bahwa jalan buntu, mereka memilih jalan lain yang mungkin beresiko. Melewati atap! Entah bagaimana caranya mereka berhasil membawa naik temannya yang lumpuh bersama dengan tempat tidurnya. Atap dibuka, secara perlahan mereka menurunkan teman yang sakit itu tepat di depan Yesus. Solidaritas yang mereka tunjukkan mencuri hati Yesus.

Bapak/Ibu yang terkasih, kita juga bisa menunjukkan rasa solidaritas kepada orang lain dengan apa pun yang kita miliki. Dengan tenaga, dengan waktu, atau dengan perhatian kita. Solidaritas itu harus nampak dalam tindakan kasih dan pengorbanan. Dengan menggerakan kaki, tangan, hati, barang-barang jasmani, bantuan kepada mereka yang menderita, mengalami bencana dan tertindas kita menunjukkan rasa solider. Dengan tindakan solider inilah, kehadiran Tuhan dirasakan.

TPG. Paramita A. S.Si-Teol