ROH KUDUS, ROH MEMPERSATUKAN

Terkotak-kotak oleh Perbedaan

Meskipun Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) di Indonesia baru akan berlangsung pada 17 April 2019, namun geliatnya sudah terasa pada saat ini. Upaya-upaya untuk melemahkan pihak lawan sudah mulai dilakukan, entah lewat penyebarluasan kabar bohong (hoax), pemelintiran kenyataan, produksi kabar yang menakut-nakuti, pembuatan situs berita palsu (menyerupai situs berita arus utama), penggunaan rumah ibadah atau kegiatan ibadah sebagai sasaran politik praktis, intimidasi dalam kegiatan Car Free Day, politisasi gerakan buruh dan sebagainya. Dampak dari situasi yang seperti itu, masyarakat rentan terbelah karena perbedaan preferensi politik. Pengalaman Pilpres pada tahun 2014 di mana hanya diikuti 2 pasangan capres-cawapres, betul-betul membuat masyarakat terbelah dua: ini dan itu; kami dan mereka. Sekarang, polarisasi serupa itu kembali membayang di depan mata.

 

Situasi masyarakat yang terkotak-kotak sesungguhnya bukan melulu disebabkan oleh karena faktor politik, tetapi juga bisa oleh faktor lainnya seperti: ekonomi (kotak masyarakat kaya, kotak masyarakat miskin). Di rumah-rumah sakit swasta, bukan lagi hal yang aneh ada ruang tunggu pasien eksekutif dan ruang tunggu pasien umum. Layanan bagi pasien eksekutif begitu istimewa (sofa yang empuk, makanan ringan penghilang rasa lapar, kopi dan teh siap seduh, TV LED dengan siaran berbagai channel dalam dan luar negeri, dsb.), sebanding dengan tarif berobat yang lebih tinggi. Sementara ruang tunggu pasien biasa tidak selengkap itu fasilitasnya; bahkan penuh sesak. Bukan hanya dalam hal itu. Perumahan masyarakat kelas bawah bersifat terbuka (bisa diakses siapa saja, bahkan cenderung tidak ada portal), sementara perumahan masyarakat kelas atas “dibentengi” oleh portal dan dibarengi oleh penjagaan ketat yang membatasi pergerakan orang masuk-keluar.

Belum lagi faktor sosial. Beberapa suku bangsa merasa dirinya sebagai yang lebih hebat (superior) ketimbang suku bangsa lainnya. Alhasil hidup bersama di antara warga yang berbeda suku bangsa, bisa jadi penuh rasa tidak suka satu sama lainnya, sebab relasi yang ada diwarnai keangkuhan dan kecurigaan.

Pengkotak-kotakan menjadi semakin diperuncing oleh karena faktor agama. Mereka yang berbeda (bukan hanya agamanya, tapi juga aliran/mazhab/tarekat dalam agama yang sama) lantas dianggap kafir atau bidah. Muncullah kotak-kotak: pemilik surga dan penghuni neraka - suatu klaim yang sifatnya spekulatif sebab hanya Allah yang berkuasa menentukan siapa yang layak di surga dan siapa yang pantas di neraka. Belum lagi gaya berpakaian turut terpengaruh. Kalau tidak bergaya seperti A, maka bukan penganut agama yang benar. Orang lantas merasa nyaman ketika berkumpul dengan sesama yang seragam.

Perbedaan lantas dipahami sebagai alasan kuat bagi pengkotak-kotakan: kami adalah ini, bukan itu; kalian adalah itu, bukan ini. Bagaimana situasi seperti ini coba dikritisi dan dimaknai?

 

Pentakosta: Persatuan dalam Perbedaan

Peristiwa pencurahan Roh Kudus yang terjadi pada hari Pentakosta (Kis. 2 : 1-11), sesungguhnya berhasil mempersatukan masyarakat yang berbeda-beda. Pada saat itu, sesuai dengan amanat yang diatur dalam Ulangan 16 : 16-17, ada banyak orang (baik yang berlatar belakang Yahudi yang tinggal di berbagai wilayah [diaspora] maupun penganut agama Yahudi) dari segala bangsa di bawah kolong langit yang datang ke Bait Allah di Yerusalem guna merayakan hari raya Tujuh Minggu (Pentakosta) sambil membawa persembahan (hasil panen sulung).

Sekalipun sebagian besar dari orang-orang itu adalah berdarah Yahudi, namun bahasa mereka berbeda-beda, menyesuaikan dengan daerah di mana mereka tinggal. Ada yang berbahasa seperti yang dimengerti oleh orang Partia, Media, Frigia, Mesir, Libia, Kreta, Arab, Roma dsb.. Nah, ketika Roh Kudus dicurahkan dan para murid bisa berbahasa asing (xenolalia) - bukan bahasa yang tidak dimengerti, tetapi sebaliknya: dimengerti oleh orang-orang yang sedang berkumpul di Yerusalem, ada 3000 orang yang memberi diri dibaptis setelah mendengar khotbah Petrus tentang Yesus yang bangkit. Jadi, orang banyak yang berbeda-beda latar belakang daerahnya itu, lantas dipersatukan sebagai pengikut Jalan Tuhan (Kristen) lewat karya Roh Kudus.

Selain itu, dalam Kisah Para Rasul 10, yakni lewat kisah perjumpaan Petrus dan Kornelius - seorang perwira pasukan Italia, kita pun dapat melihat karya Roh Kudus yang mempersatukan. Sebagai seorang Yahudi, Petrus terikat pada tradisi yang melarang seorang Yahudi bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka (ay. 28). Dalam sistem ketahiran Yahudi, bangsa-bangsa asing di anggap sebagai pihak yang tidak tahir, karena itu harus dijauhi atau setidaknya tidak bergaul dengan mereka (lih. tabel Jewish Purity System di bawah ini).

Pure

Impure

Clean

Unclean

Righteous

Outcasts, sinners

(sin is a matter of being unclean, not behaviour)

Male (generally but not automatically pure)

Female (automatically impure)

Rich (generally but not automatically pure)

Poor (conventional wisdom said the poor hadn’t lived right)

Jew (generally but not automatically pure)

Gentile (impure by definition)

Well/healthy/whole

Ill/maimed/diseased (social meaning of being impure)

Agricultural produce on which taxes were paid

Agricultural produce on which taxes were not paid

(delcared unclean, boycotted by the righteous)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akan tetapi, sebelum Petrus menjumpai Kornelius, Allah lebih dulu memberikan penglihatan kepada Petrus (ay. 10-17). Ada sebuah kain terbentang turun dari langit, dan di atas kain itu terdapat aneka binatang yang haram (unclean). Lalu, Allah memintanya untuk memakan binatang yang haram tersebut. Petrus menolak, sebab Taurat melarang tegas hal tersebut. Tetapi Allah berkata: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram” (ay. 15). Penglihatan itu mau mengajari Petrus tentang apa yang Allah kehendaki yakni Petrus “tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir” (ay. 28b). Dengan begitu, ada keyakinan dan perspektif yang dibongkar di sana. Karenanya saat Petrus berjumpa dengan Kornelius - yang mengisahkan bahwa ia pun menerima penglihatan dari Allah - Petrus lantas berkata: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang” (ay. 34).

Jadi, kita bisa melihat bahwa karya Roh Kudus adalah karya yang mempersatukan; bukan hanya mempersatukan orang-orang yang berbeda latar belakangnya menjadi sama-sama pengikut Kristus, tetapi juga mempersatukan umat manusia.

Mengapa bisa dikatakan demikian? Dalam Konfesi GKI 2014, pada butir tentang Roh Kudus, dikatakan “Kami percaya kepada Roh Kudus … sumber kekuatan yang melibatkan kami dalam misi Kerajaan Allah”. Dengan kata lain, karya Roh Kudus akan mendorong kita untuk terlibat dalam pekerjaan Allah - sama seperti yang Yesus katakan: “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan ...” (Yoh. 14 : 12).

Dalam hidup-Nya, Yesus berusaha mempersatukan orang-orang yang selama ini terkotak-kotak oleh karena sistem ketahiran Yahudi. Ia bersedia duduk makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa (yang notabene dikategorikan impure alias tidak tahir; lih. Mat. 9 : 10; Mrk. 2 : 15; Luk. 5 : 29), tetapi juga mau duduk makan bersama orang Farisi (yang notabene dikategorikan sebagai pure alias tahir; lih. Luk. 7 : 36; 11 : 37). Dengan mencermati pekerjaan Yesus yang seperti ini, maka kita pun bisa menghayati ada semangat yang sama dalam kuasa Roh Kudus yang dicurahkan kepada orang percaya. Allah Trinitas itu berkelindan untuk bersama-sama mengerjakan misi yang sama: mempersatukan.

 

Pentakosta: Perayaan dalam Keseharian

Hari Pentakosta memang merupakan salah satu hari raya gerejawi - yang diakui secara nasional sehingga menjadi hari libur. Bagi gereja, Pentakosta memiliki tiga rangkap makna: (1) persembahan syukur tahunan - sebagai kelanjutan hari raya Tujuh Minggu Yahudi; (2) pencurahan Roh Kudus; dan (3) hari lahir Gereja. Dengan pemaknaan yang seperti ini, Pentakosta memang perlu dirayakan secara ritual-seremonial, tetapi terlebih perlu ia dirayakan dalam relasi sosial di tengah keseharian.

Menjadi menarik, ketika perayaan Pentakosta di tahun ini, jatuh persis di tanggal 20 Mei 2018 yang juga bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Karya Roh Kudus yang mempersatukan itu harus betul-betul dijiwai dan menggerakkan para pengikut Kristus untuk berbuat sesuatu yang nyata bagi persatuan dan kesatuan - entah di lingkup keluarga, gereja, dan masyarakat. Di tengah-tengah kehidupan bangsa yang penuh permusuhan, pengikut Kristus sedapat mungkin tidak memperkeruh suasana atau malah memusuhi pihak-pihak yang berseberangan, tetapi bersedia merangkul dan menjadi pembawa damai. Dengan peduli pada upaya memperkuat persatuan dan kesatuan tersebut, maka umat telah menghasilkan buah roh yang bersumber dari Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya.

Selamat Hari Pentakosta. Selamat Hari Kebangkitan Nasional.

 

Breathe into me, Holy Spirit, that my thoughts may all be holy.
Move in me, Holy Spirit, that my work, too, may be holy.
Attract my heart, Holy Spirit, that I may love only what is holy.
Strengthen me, Holy Spirit, that I may defend all that is holy.
Protect me, Holy Spirit, that I may always be holy.

(St. Agustine)

Pdt. Natanael Setiadi - Penulis adalah Ketua Bidang Pendidikan GKI Klasis Jakarta Timur