PENATUA : KETELADANAN PEMIMPIN SPIRITUAL

Setiap tahun Gereja akan melakukan pemilihan anggota Majelis Jemaat atau Penatua(1). Pemilihan ini sudah berlangsung lama, bahkan sudah ada sejak zaman rasul-rasul (Kis. 11 : 30; 14 : 23).

Kata Penatua adalah terjemahan dari kata Yunani, ‘presbiter’ (presbuteros) yang berasal dari akar kata ‘presbus’ yang berarti ‘usia tua’, sebuah gelar yang diberikan kepada seseorang yang layak untuk memerintah berdasarkan usia tua dan pengalamannya. Dan, pada zaman Perjanjian Baru, tua-tua (bangsa Yahudi) berkuasa dengan para imam kepala (Mat. 21 : 23) dalam memutuskan soal agama, dan jika perlu dalam hal ‘mengucilkan’ seseorang dari rumah sembahyang.

Dengan pengertian demikian, kita dapat mengerti bahwa Penatua adalah pemimpin(2) dengan kuasa yang dipercayakan kepadanya.

Berdasarkan Kisah Para Rasul 14 : 23 dan juga Titus 1 : 5, Gereja melakukan proses pencalonan dan pemilihan Penatua. Dalam proses pencalonan dan pemilihan Penatua itu, Gereja tidak sedang hanya sekedar mencari, mencalonkan dan memilih seorang pemimpin, melainkan pemimpin spiritual, pemimpin yang mempunyai dan mewujudkan nilai-nilai rohani dan spiritualitasnya di dalam dan melalui kepemimpinannya yang mencerminkan pengenalannya yang benar akan Allah (Titus 1 : 6-9). Karena, memang, ada orang-orang yang mengaku mengenal Allah, tetapi hidupnya tidak tertib dan perbuatannya menyangkal Allah (Titus 1 : 10-16). Dan secara Gerejawi, GKI mempunyai perangkat untuk melakukan proses tersebut dengan baik dan benar, termasuk di dalamnya adalah persyaratan yang harus diperhatikan dalam proses pencalonan dan menjadi seorang Penatua (lihat buku TAGER TALAK GKI halaman 165-166).

Proses ini penting. Karena, jika di dalam proses pencalonan, pemilihan dan penetapan Penatua, Gereja tidak lagi memperhatikan nilai-nilai rohani dan spiritualnya -karena, bisa saja hanya didasarkan kepada jumlah sedikit atau banyaknya suara yang masuk-, sebenarnya, Gereja sedang berproses ke arah ke kematian. Gereja akan menjadi seperti garam yang tawar. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Mat. 5 : 13). Gereja tidak lebih dari lembaga sosial! Gereja, khususnya PMJ atau rapat-rapat lainnya, akan menjadi tempat adu argumentasi. Karena di dalamnya -mungkin- hanya terdiri dari orang-orang yang yang pintar berdebat tetapi tidak pintar dalam berbuat. Gereja hanya akan menjadi seperti sebuah perusahaan yang -umumnya- selalu mencari bahkan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan sendiri dengan menyediakan dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dan demi memuaskan konsumen, bukan untuk Allah. Gereja semakin tamak, bukan semakin murah hati.

Dengan demikian, dibutuhkan sebuah keteladanan spiritual dari seorang Penatua yang adalah seorang pemimpin spiritual.

Keteladanan spiritual ini menjadi sangat penting karena Penatua adalah pemimpin yang diikuti oleh orang lain. Tentunya bukan hanya sebatas keteladanan kemampuan dan keterampilan manajeman seperti di perusahaan atau perkantoran, melainkan dalam kehidupan mental-spiritualnya. Sebab, Penatua tidak sedang membangun sebuah gedung gereja, melainkan sedang membangun gereja -syair KJ.257 mengatakan, “gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya; … lihat di dalamnya, gereja adalah orangnya.” Dan di dalam buku TATA GEREJA dan TATA LAKSANA GKI Pasal 79 : 1-2 dikatakan dengan jelas bahwa, “Penatua adalah pejabat gerejawi yang bersama-sama Pendeta menjadi Majelis Jemaat, Majelis Klasis, Majelis Sinode Wilayah dan Majelis Sinode. Penatua dipanggil untuk melaksanakan pelayanan kepemimpinan dalam kerangka pembangunan gereja secara sukarela untuk mewujudkan visi dan melaksanakan misi dalam konteks masyarakat, bangsa dan negara.” Ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus bahwa Penatua mempunyai tugas dan tanggungjawab “…, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, …” (Efesus 4 : 11-15). Artinya, Penatua harus mempunyai kemampuan untuk membina diri, supaya ia pun dimampukan untuk membina orang-orang kudus, yaitu anggota jemaat yang telah dikuduskan dan dipercayakan oleh Tuhan kepadanya (lihat buku PEDOMAN PELAKSANAAN GKI 8.1 -8.6).

Penatua yang membina diri akan dimampukan untuk memberi dan menjadi teladan kepemimpinannya bukan dengan kekuatan kuasa, melainkan dengan integritas hidup, di mana ada kesesuaian kata dan perbuatan, kesesuaian nilai-nilai rohani dan spiritual kristianinya dengan sikap dan perilaku yang mewarnai perasaan, pikiran dan keputusan-keputusan yang dipilihnya, misal, dalam PMJ.

Jika kita adalah (calon) Penatua, nilai-nilai rohani dan spiritual apa dan bagaimana yang ada pada kita?

Sebab, sekali pun, kita pintar secara rasional, belum tentu pintar secara spiritual; kaya dalam hal materi, belum tentu kaya rohani; mempunyai jiwa sosial, belum tentu mempunyai kasih; aktif dalam berbagai kegiatan, belum tentu melayani.

Jika kita adalah (calon) Penatua, maka “... kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, ...” [Ef. 4 : 17-18]. Sebab, Penatua adalah pemimpin yang diikuti, yang harus memberi keteladanannya bukan dengan kuasa, melainkan dengan intergritas hidupnya (lihat 1 Petrus 5 : 1-3), sehingga nama Allah dipermuliakan.

Solideo Gloria

(1)      Dalam Perjanjian Baru dipergunakan kata “Penatua”, sedangkan dalam Perjanjian  Lama dipergunakan kata “Tua-tua”.

(2)      Secara tidak langsung telah terjadi pergeseran dari kepemimpinan sipil, yaitu ketika Allah memerintahkan Musa untuk mengumpulkan dan bekerjasama dengan tua-tua Israel dalam upaya memperoleh kebebasan di dan dari Mesir, [Kel 3:16] ke kepemimpinan agama, yang dinampakkan dari dan dalam keterlibatan mereka bersama para ahli Taurat dan imam-imam kepala ketika berhadapan dengan Yesus [Mat 16:21; 21:23; 26:3,57; 27:1]. Penatua atau tua-tua bangsa Israel atau Yahudi merupakan perkembangan dari kepala-kepala keluarga [band. Kel 3:16 dan 24:1].

Pdt. Jedi Otniel Liline - Penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan BPMK GKI Klasis Jakarta Timur