Natal Dan Disabilitas

Tanggal 3 Desember selalu diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional. Istilah disabilitas memang masih terasa asing bagi sebagian besar kita. Pada umumnya kita lebih terbiasa menggunakan istilah penyandang cacat atau orang yang berkebutuhan khusus. Disabilitas dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan atau beberapa kombinasi dari ini. Disabilitas tidak hanya yang terlihat secara kasat mata saja, namun disabilitas juga bisa termasuk disabilitas psikis yang tidak terlihat secara fisik.

Pemerintah Indonesia dalam Undang-Undang nomor 4 tahun 1997 sudah mengatur mengenai hal disabilitas (di UU tersebut dituliskan kata penyandang cacat). Di dalam pasal 6 dalam undang-undang tersebut dikatakan bahwa seseorang dengan disabilitas mempunyai hak yang sama dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan, perlakuan dan aksebilitas. Akan tetapi, pada kenyataannya masih banyak orang dengan disabilitas tidak mendapatkan hak tersebut. Kita dapat melihat sekeliling kita masih sedikitnya fasilitas yang ramah terhadap disabilitas. Peraturan secara nasional sudah ada, namun prakteknya masih dibutuhkan usaha yang sangat besar. Sekarang pertanyaannya adalah apakah gereja sudah ramah dengan disabilitas?

“Beda donk orang normal dan tidak.” Umat yang terkasih, pernahkah kita mengeluarkan kata-kata tersebut? Siapakah orang yang normal bagi kita? Apakah normal hanya ditentukan dari fisik? Apakah sebuah kenormalan hanya berdasarkan pandangan kita terhadap orang lain? Normalisme membuat orang dengan disabilitas dianggap sebagai orang yang abnormal, warga kelas dua, tidak berguna, tidak berfungsi dan tidak sempurna. Ketidakramahan kita terjadi saat kita masih mengeluarkan kata-kata tersebut. Di dalam bidang pekerjaan pun kita masih melakukan pembedaan tersebut. Contohnya seorang tuna netra diidentikkan dengan profesi tukang urut. Untuk kali kedua, pertanyaannya kembali ditanyakan apakah gereja sudah ramah terhadap disabilitas?

Di dalam kisah penciptaan dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia serupa dengan gambar diri-Nya. Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” (Kej. 1 : 26, 27 & 31). Jika kita mengakui bahwa manusia adalah gambar diri Allah, maka itu juga termasuk orang dengan disabilitas. Melalui ayat ini berarti normalisme itu tidak berlaku, karena yang menentukan seseorang itu sempurna adalah sang pencipta itu sendiri.

Apakah gereja sudah ramah terhadap disabilitas? Memang tidak dapat dipungkiri, seringkali urusan disabilitas menjadi nomor yang kesekian dalam program gereja. Akan tetapi, seiring dengan meningkatnya rasa sensibilitas terhadap sesama kita yang disabilitas, maka beberapa gereja juga sudah memulai untuk menjadi gereja yang ramah terhadap disabilitas. GKI Pasirkoja adalah salah satu gereja yang mempunyai kebaktian khusus tuna rungu. Bagaimana dengan GKI Kebonjati? GKI Kebonjati sudah memulai dengan mencoba mengadakan fasilitas-fasilitas yang ramah terhadap disabilitas, selain itu sudah mulai diadakan pertemuan-pertemuan FGD (Forum Group Discussion) mengenai program gereja mengenai disabilitas. Akan tetapi, untuk hal ini juga diperlukan kesadaran bersama tentang arti bergereja dalam melihat disabilitas.

Pada masa Adven satu sampai dengan empat, umat akan melihat suatu hal yang berbeda dalam Liturgi Adven. Setelah bagian Tekad Tobat akan ada sebuah lagu yang berjudul “Hai Kota Mungil Betlehem”. erbedaannya adalah pada saat bernyanyi, umat akan diajak menggunakan bahasa isyarat. Penggunaan bahasa isyarat ini hanya salah satu cara agar kita dapat juga merasakan bagaimana seorang tuna rungu menikmati nyanyian dalam gereja. Puncaknya adalah, pada saat 23 Desember 2018 nanti, GKI Kebonjati bekerja sama dengan Komisi Tuna Rungu GKI Pasirkoja dan Wiyata Guna akan mengadakan kebaktian bersama. Biasanya seorang disabilitas hanya muncul pada saat paduan suara ataupun kesaksian, namun dalam kebaktian nanti, mereka akan terlibat aktif sebagai pelayan ibadah. Ini hendak menunjukkan bahwa mereka juga mempunyai potensi yang Tuhan berikan kepada mereka.

Rangkaian acara Adven ini hanya salah satu cara agar kita sebagai umat Kristus ditingkatkan kesadarannya tentang kehadiran saudara kita dengan disabilitas. Disabilitas mungkin mempunyai keterbatasan di satu sisi (Penulis-tapi bukankah semua manusia mempunyai keterbatasan). Namun, mereka mempunyai sebuah potensi, yang bahkan bisa melebihi orang-orang yang menganggap dirinya normal. Dengan memberikan ruang bagi mereka untuk melayani dan memberikan ruang bagi mereka di gereja untuk bersekutu bersama, percayalah bahwa kita sedang mencerminkan penghormatan akan kehadiran Allah sendiri.

 

Selamat Merayakan Adven
Selamat mempersiapkan diri menyambut Natal
Soli Deo Gloria

 

Bacaan lebih lanjut

  1. Dari Disabilitas ke Penebusan oleh Asosiasi Teolog Indonesia
  2. http://ignitegki.com/going-deeper/menyandingkan-disabilitas-dan-citra-allah-yang-sempurna/
  3. KEINDAHAN DALAM DISABILITAS: Sebuah Konstruksi Teologi Disabilitas Intelektual oleh Isabella Novsima Sinulingga

Pdt. David Roestandi Surya Sutanto