“Menjadi Teladan Sebagai Penurut Tuhan”

Ada sebuah ungkapan “Aturan dibuat untuk dilanggar”. Ungkapan bernada pesimis itu ada benarnya. Tetapi apakah karena “ada benarnya” berarti kita tidak perlu bertanggung jawab pada hakekat dan pesan dari sebuah aturan? Dengan semangatnya Majelis Jemaat GKI Kebonjati saat ini sedang bercita-cita membaca Alkitab secara penuh dan utuh. Dan dalam berbagai pasal yang sedang dibaca, kami menemukan beberapa perikop pembacaan yang berkaitan dengan “Berkat” dan “Kutuk”. Yang membedakan antara keduanya adalah sikap terhadap aturan, hukum dan Firman dari Tuhan. Ketaatan mendatangkan berkat, sedang ketidaktaatan mendatangkan kutuk. Percaya atau tidak percaya kepada Tuhan akan berkaitan dengan kesatuan dan keutuhan pola dan cara kita berpikir, merasa, menilai, dan melakukan keputusan terhadap suatu masalah dalam kehidupan.

Dinamika inilah yang dapat menilai apakah integritas seseorang itu dapat dipercaya atau tidak. James Kouzes dan Barry Posner dalam buku mereka yang berjudul, Credibility : How Leaders Gain and Lose it, Why People Demand it, melaporkan hasil riset mereka selama hampir 20 tahun dari survey terhadap ribuan kaum profesional dari empat benua bahwa nomor satu yang paling kristis bagi seorang pemimpin adalah integritas. Dari mana asal integritas atau jati diri itu? Menurut saya, jati diri kita berasal dari dalam diri berupa iman yang memberi penilaian pada pilihan dan keputusan perbuatan.

Bagi Yesus sangat jelas bahwa Diri-Nya adalah Mesias, Anak Allah. Dia konsisten dan konsekwen terhadap perintah dan kuasa-Nya bagi manusia. Pencobaan yang diajukan orang-orang Herodian kepada Yesus, “... apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” ( Matius 22 : 16-17). Dijawab oleh Yesus, “(Mat 22 : 21) Jawab mereka : ‘Gambar dan tulisan Kaisar’. Lalu kata Yesus kepada mereka : “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Tuhan berprinsip bahwa sudah sepantasnya membayar pajak kepada Kaisar, karena mereka adalah pemimpin negeri. Dalam Perjanjian Lama dipahami bahwa kuasa dan pemerintahan adalah dari Allah, manusia sebagai pemimpin bangsa adalah sekaligus hamba Allah. Bagi Yesus tidak perlu ada pemisahan antara dua jenis kuasa, yaitu kuasa Kaisar dan kuasa Allah. Dengan demikian Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah.

Hidup taat pada Allah tidak selalu diikuti dengan keberhasilan dan kesuksesan hidup menurut dunia. Realitas dunia berkata lain. Tidak jarang orang gagal bukan karena ia tidak beriman pada Allah, melainkan karena ia berpegang kepada Allah dan menjadikan Allah Tuannya dan bukan mamon. Misalnya seorang hakim tinggi lulusan Sekolah Dasar di Talaud yang tidak mau menerima suap dua belas boks uang dari seorang terdakwa yang esok akan diadilinya. Orang-orang seperti ini memilih kehilangan kesuksesannya daripada kehilangan imannya kepada Allah.

Yang perlu gereja lakukan adalah melakukan dukungan dan pembelaan kepada mereka yang dengan teguh memilih untuk melakuan kebenaran dan ketaatan pada Tuhan dan karena keputusannya yang demikian, ia kehilangan pekerjaan, difitnah dan dianiaya oleh sebab kebenaran.

Pdt. Daud Solichin.