Menjadi Murid Kristus Penuh Waktu

Neil Hudson, seorang pemimpin gereja di Inggris dan melayani di The London Institute For Contemporary Christianity, yang telah melakukan penelitian tentang karakter jemaat masa kini menyimpulkan paling tidak ada 2 tipe jemaat dalam gereja yaitu tipe jemaat dengan gaya konsumen dan jemaat dengan gaya selebritis.

Jemaat dengan gaya konsumen merasa bahwa gereja adalah tempat mereka dapat membelanjakan uangnya dan bisa mendapatkan apa yang mereka mau sesuai dengan harta benda yang telah dikeluarkan. Karena itu “jualan” di sebuah jemaat tempat harta benda dibelanjakan harus memuaskan tipe konsumen, bila tidak memuaskan maka sah-sah saja bila tipe jemaat ini “belanja di toko sebelah”.

Tidak jarang Majelis Jemaat dan Komisi yang pontang-panting dengan program yang “laku dijual” demi memenuhi hukum ekonomi agar pelanggan tidak lari bahkan bisa saja cenderung saling menyalahkan bila ada pelanggan yang lari “ke toko sebelah”.

Dalam tulisannya Neil mengatakan bahwa, benar kondisi ini memacu sebuah jemaat untuk terus berinovasi dan kreatif dalam membuat program tetapi sisi lain dari “kesibukan gereja konsumerisme” mengakibatkan nilai kekristenan hanya ada dan terjadi di dalam tembok gereja saja, umat puas dengan khotbah yang ada mereka pulang dan setelah itu pada waktu mereka diluar tembok gereja maka Firman Tuhan tidak berdampak apapun.

Tipe jemaat yang ke dua adalah tipe selebritis, tipe ini menurut Neil adalah tipe jemaat yang senang berada di sebuah jemaat dan bahkan ikut menjadi aktifis dari jemaat tertentu, tetapi kesibukannya menjadikan dia seorang yang selalu ada dalam banyak kegiatan, sehingga dia bersedia menerima banyak tugas dan merasa sangat sibuk di gereja, sangat banyak tugas, tetapi tidak bersedia berbagi dengan yang lain karena berbagi berarti menunjukkan ketidakmampuan dirinya melakukan tugas tersebut. Kesibukan di dalam tembok gereja ternyata kerap kali tidak dibarengi dengan kesibukan diluar tembok gereja.

Paling tidak dengan 2 tipe ini (ada juga tipe yang lain), maka Neil hendak mengatakan bahwa, makin banyak umat yang selalu memisahkan antara yang sekular dengan yang rohani. Antara hidup dalam tembok gereja dan hidup di luar tembok gereja.

Padahal panggilan dari gereja yang dinyatakan oleh Yesus Kristus adalah “jadikanlah semua bangsa murid-Ku”.

Panggilan gereja adalah menjadi “murid dan membuat orang lain juga menjadi murid”.

Panggilan menjadi murid berarti umat haruslah selalu mampu belajar bagaimana menerapkan Firman Tuhan dalam kehidupannya sehari hari, di dalam maupun di luar tembok gereja.

Firman Tuhan bukanlah perkataan yang dapat dibeli untuk pemuas sesaat saja tetapi Firman Tuhan adalah bahan untuk umat belajar memberlakukan perkataan Yesus dalam dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain dalam hidup kesehariannya.

Membuat orang lain menjadi murid tidaklah sama dengan membuat orang lain menjadi Kristen, tetapi membuat menjadi murid adalah bagaimana setiap sesama mampu juga belajar menerapkan perkataan dan kehendak Tuhan dengan benar dalam sikap hidup sehari hari.

Yesus tidak berkata “pergi dan hasilkanlah petobat” atau “pergi dan hasilkanlah orang yang berpengetahuan hebat tentang Firman”.

Tetapi “pergi dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku”.

Menjadi murid adalah seorang yang bersedia belajar, belajar membaca dengan benar kehendak Yesus, belajar mendengar kebenaran Firman-Nya, belajar untuk merendahkan diri dengan semangat perlu pengetahuan, belajar untuk memberlakukan kebenaran Firman Tuhan dalam setiap bagian kehidupan dan pergumulan.

Belajar memang jatuh bangun, sakit bahkan mungkin terluka, lebam, berdarah, tetapi belajar menjadi murid dan memuridkan sesama adalah proses yang hanya akan berakhir bila hidup kita berakhir. Belajar menjadi murid dan memuridkan adalah proses seumur hidup dan penuh waktu, di dalam tembok gereja tetapi akan lebih banyak waktu di luar tembok gereja.

Belajar menjadi murid adalah proses mengatasi tipe dan sindrom umat konsumerisme maupun selebritas.

TPG. Esther Solichin