Menghidupi Kasih

Sebuah pertanyaan yang muncul dari seorang gadis, “Bagaimana kamu tahu bahwa engkau mencintaiku dengan sungguh-sungguh?” Pertanyaan tersebut begitu sarat makna yang mendalam bukan sekedar kata-kata rayuan ataupun kata-kata manis semanis gula 1 ton. Tetapi bagaimana sang pria bisa menyakinkan sang kekasihnya bahwa ia mencintainya dengan ketulusan hati, bukan hanya sesaat tetapi untuk selamanya. Setelah memikirkannya sejenak, maka sang pria pun menjawab, “Aku tahu aku mencintaimu, karena aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk membuatmu bahagia.”

Tentunya bukan hanya satu pihak yang mengasihi tetapi kedua belah pihak. Kasih yang bukan hanya sekedar kata-kata manis, tetapi lebih membutuhkan pembuktian setiap saat. Kasih yang mempunyai harga “penyanggalan diri, berkorban, senantiasa rindu mengusahakan yang terbaik bagi orang lain dan mengesampingkan kepentingan diri sendiri.”

Sebuah rumah tangga dibangun atas dasar kasih yang hakekatnya adalah kasih itu berasal dari Allah (1 Yoh. 4 : 7). Tetapi apakah kasih yang mula-mula yang begitu hangat, indah, mempesona, kuat, yang mengubah masih dimiliki oleh kita semua dengan usia pernikahan 10, 20, 30, 40, 50, 60 bahkan ada yang 70 tahun lebih.

Ketika pada suatu pertemuan di sekolah anak-anak SMP, seorang guru bertanya kepada para murid-murid SMP, “apakah kasih itu?” Maka beberapa anak mengacungkan tangannya. Andi SMP kelas 1 pun menjawab dengan suara lantang dan semangat, “Kasih adalah ketika ada seorang laki-laki yang sangat menyukai untuk memandang seorang gadis terus menerus, dan rindu untuk dapat bertemu, entah dengan berbagai macam cara ataupun alasan!” Lalu di sambut dengan gelak tawa, tepuk tangan ataupun siulan dari teman-temannya. Setelah suasana tidak terlalu ramai, maka, Reni SMP kelas 3 pun menjawab dengan suara yang tenang, “Kasih adalah ketika nenek mengidap radang sendi dan dia tidak bisa membungkuk untuk menggunting kuku kakinya yang panjang, maka kakeklah yang akan menggunting kuku kaki nenek meskipun dengan segala susah payah, karena kuku nenek yang semakin keras. Meskipun demikian kakek melakukannya dengan wajah tersenyum, senang dan bersenda gurau. Kasih adalah juga ketika nenek sakit dan lupa apakah sudah meminum obat atau belum, maka kakeklah yang memperhatikan obat-obatan nenek yang harus diminum agar dosisnya tepat, tidak kekurangan ataupun juga kelebihan. Kakek sendirilah yang melayani nenek ketika nenek sakit dan ia tidak menyerahkan suatu apa pun kepada pembantu.” Suasana saat itu tiba-tiba menjadi sangat hening dan semua murid terdiam, terpaku mendengar suara Reni.

Manusia banyak menghadapi berbagai hal di dalam hidup ini. Sehingga manusia perlu kembali diingatkan “Apakah Kasih itu?” Kita perlu berhenti sejenak dari segala rutinitas kehidupan kita. Kita perlu mengingat kembali masa-masa “awal perjuangan cinta membentuk rumah tangga.” Sudah berapa lama kita “terlupa” untuk mewujudkan dan mengatakan “Aku mengasihimu!/Aku mencintaimu!” kepada pasangan kita, kepada setiap anggota keluarga. Dan terlebih lagi mari kita meneladani Kasih Allah yang begitu besar kepada kita, Ia senantiasa menyatakan cinta-Nya kepada kita dengan memberikan kehidupan, berkat-berkat yang tidak terhitung (bukan hanya berkat materi saja), kesehatan, persahabatan, sukacita, pekerjaan, bakat, kepandaian, dan lain-lain, tanpa pamrih.

Oleh karena itu “Apakah kasih itu?” Bagaimana menghidupi kasih?” Allah itu adalah Kasih dan Dia mencurahkan Kasi-hNya kepada kita semua, dia rela korbankan Putera-Nya terkasih untuk menderita, mati disalibkan dan bangkit untuk menyelamatkan kita manusia berdosa yang dikasihi-Nya supaya dapat menikmati sukacita-Nya dan hidup kekal bersama-Nya. Melewati berbagai macam puncak dan lembah kehidupan mari kita kembali mengingat kasih-Nya kepada kita. Dan bagaimana kita membalas mengasihi-Nya dengan mengasihi sungguh-sungguh keluarga kita dan sesama kita.

Salam Kasih,

Pdt. Agnes Irmawati Sunjoto Lukardie