Membarui Tugas Pengutusan

Setidaknya ada dua keistimewaan Nabi Yunus dalam Alkitab. Pertama, Yunus adalah nabi yang yang diutus Tuhan Allah untuk pergi ke luar negeri. Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku. (Yunus 1 : 2). Kedua, Tuhan Yesus pernah menyebut pengalaman Yunus sebagai tanda yang akan dinyatakan-Nya. “… Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” (Matius 12 : 40)

Yunus (Yonah, bhs. Ibrani) berarti merpati. Merpati biasa digambarkan sebagai simbol kesetiaan. Atau, bahkan simbol dari Roh Kudus. Namun tindakan Yunus berbeda dengan arti namanya. Sebab dengan diam-diam, Yunus pergi melarikan diri ke Tarsis. Yunus tidak mau pergi ke Niniwe. Akibat kepergian itu Yunus bersama penumpang kapal harus menghadapi badai di tengah laut, hingga akhirnya Yunus sendiri dibuang ke laut, hingga ditelan ikan besar. Setelah berdoa, maka Tuhan menitahkan ikan itu mengeluarkan Yunus dari perutnya.

Kemudian, Yunus pun pergi memberitakan penghakiman Tuhan kepada penduduk Niniwe agar Niniwe bertobat. Dampak pemberitaan Yunus sungguh luar biasa. Sebab membuat Niniwe percaya kepada Allah dan bertobat. Pertobatan tersebut membuat Allah tidak jadi menghukum Niniwe.

Ironisnya grasi ilahi Allah kepada Niniwe, justru membuat Yunus kecewa dan marah kepada Tuhan. Setelah melalui tumbuh dan matinya pohon jarak, Firman Tuhan pun menyapa Yunus, “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana Aku tidak sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari 120 ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” Yunus 4 : 10-11. Lembaga Alkitab Indonesia memberikan judul Yunus pasal 4 adalah “Yunus belajar menginsyafi, bahwa Allah mengasihi bangsa-bangsa lain.”

Kisah Yunus merupakan sebuah pembelajaran Allah kepada Yunus dan gereja. Bahwa Yunus harus dan harus terus menerus belajar untuk taat dan menjadi berkat dengan memberitakan rahmat. Bahwa dirinya tidak boleh dikuasai oleh egosentrisme. Yunus diperjuangkan Allah begitu rupa untuk sampai pada titik kesadaran dan kekuatan mengalahkan egosentrisme. Mulai dari dibuang ke laut dan ditelan ikan, pun sampai dengan tumbuh dan matinya pohon Jarak. Karya Allah melalui Yunus tidak sia-sia, sebab akhirnya Niniwe bertobat dan lepas dari penghukuman Tuhan. Yunus pun ikut bertobat dan telah menjadi berkat bagi Niniwe.

Kita, selaku gereja lebih sering bersikap dan bertindak seperti Yunus. Bahwa kita masih suka menghindar dari tugas pengutusan untuk memberitakan rahmat Tuhan kepada sesama kita. Kita masih lebih suka melarikan diri dari tugas untuk mewartakan rahmat Tuhan kepada masyarakat kita di luar gereja kita. Bahwa Tuhan menghendaki kebaikan, keadilan dan kebenaran terwujud di dalam kehidupan kita bersama dengan sesama.

 

Konon kita menghindari tugas eksternal, karena kita selaku gereja lebih sering asyik dengan membuat aktivitas bagi kesenangan diri sendiri. Kita sibuk dengan dalih adanya sebuah tugas internal yang menjadi kebutuhan kita. Kita begitu serius dengan “altar”, namun kita cenderung mengabaikan “pasar”. Sama seperti Yunus yang sedang berada di ruang kapal yang paling bawah dan asyik tertidur dengan nyenyak. Perhatikanlah kesaksian Kitab Yunus, apa yang mereka lakukan! “Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak. Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa. (Yunus 1 : 5-6)

Sungguh ironis, jika gereja hanya asyik terlelap dengan aktivitas internal saja. Sementara itu, ada Mentawai, Papua dan Ambon, yang menantikan dukungan kita. Sementara itu juga, ada banyak persoalan kebangsaan yang sebenarnya juga menjadi tanggung jawab bagi kita, pasca Pilkada 2018 dan jelang Pemilu 2019. Di tengah situasi seperti itu, ternyata ada orang-orang di luar gereja sedang mengupayakan untuk menyelamatkan dan membangun negeri.

Sungguh ironis, jika kita selaku gereja yang ditugaskan Allah, justru diingatkan oleh orang lain untuk menjalankan tugas pengutusan. Itu sebab kita perlu membarui tugas pengutusan kita. Tugas pengutusan bukan sekedar memperkenal karya keselamatan Kristus saja, melainkan wujud nyata dari karya keselamatan Kristus bagi sesama kita. Apa yang sudah dan akan kita lakukan bersama sesama kita, bagi kapal kita?

 

* Penulis adalah Ketua Umum BPMK GKI Klasis Banten

Pdt. Benny Halim