MELIHAT KEMBALI : NATAL YANG AUTENTIK

Pelabuhan Internasional Batam selalu dipadati oleh orang-orang yang ingin berangkat ke Singapura di penghujung tahun. Durasi antrean di imigrasi Harbour Front Ferry Terminal Singapura bisa mencapai 4-5 jam. Hiasan, penerangan, musik dan lagu-lagu Natal mengisi berbagai tempat keramaian. Tempat-tempat wisata seperti Orchard, Sentosa, Vivocity, Bugis, Singapore River, Garden by the Bay, Marina, dan Chinatown ramai dengan pengunjung yang berbelanja, berfoto atau menikmati makanan kecil.

Saya senang dengan pepatah orang Yahudi, A person is known by three things: his cup (bagaimana ia memegang gelasnya), his pocket (kemurahan hatinya) and his anger (apa yang membuat dirinya marah). Untuk mengenal diri sendiri, kita mesti merenungkan apa yang menjadi prioritas hidup kita, dan apa yang menjadi nilai-nilai kehidupan kita. Saya percaya manusia senantiasa merindukan (yearn) dan mencari (quest) kebahagiaan dan peningkatan kualitas hidup. Bagaimana kita menjalani kehidupan dengan baik (well-lived life)? Apakah kita sudah sungguh-sungguh hidup? Kita belum sungguh-sungguh hidup apabila kita tidak dapat membermaknakan hidup kita secara utuh, baik saat bekerja, makan, membaca, meneguk kopi … pepatah mengatakan, “If you wait ‘till you find the meaning of life, will there be enough life left to live meaningfully?

Kisah Natal berfungsi sebagai The Ultimate Reference Point untuk mengenal makna kehidupan. Ketika murid-murid-Nya yang pertama menemui Yesus, Dia bertanya kepada mereka, “Apakah yang kamu cari?” (Yoh. 1 : 38). Jawaban yang diberikan oleh murid-murid sangat menarik, “Guru, di manakah Engkau tinggal?” (Yoh. 1 : 39). Saya percaya bahwa murid-murid itu bukan kepo dan ingin mengetahui tempat tinggal Yesus agar mereka bisa snap a photo, lalu dibagikan di Instagram, melainkan mereka mau dekat dengan Guru mereka. Pepatah Yahudi mengatakan, “Be covered in the dust of your rabbi”, yakni berjalan sedemikian dekat dengan gurumu sehingga dirimu diselubungi oleh debunya.

Melalui kisah Natal, Allah yang selama ini tidak kelihatan, menyatakan Diri-nya. Namun dunia tidak mengenal Dia, bahkan kepunyaan-Nya menolak Dia (Yoh. 1 : 10). Namun “dalam Dia ada hidup” (Yoh. 1 : 4). Dan hidup tersebut telah dinyatakan (1 Yoh. 1 : 2). Hidup tersebut berkelimpahan (Yoh. 10 : 10), di mana jiwa kita mendapatkan ketenangan (Mat. 11 : 29). Inilah kehidupan yang sesungguhnya, yang Tuhan kehendaki bagi kita. Natal yang autentik menawarkan kehidupan yang semestinya (life as it it ought to be) bagi kehidupan dunia. Nah, untuk bisa melihat dengan jelas, kita membutuhkan ketenangan hati dan kejelasan pikiran (the clarity of the minds) dan bukan sinisme pikiran. Pepatah mengatakan, “The first step to wisdom is silence.” Dengan ketenangan pikiran, kiranya kita melihat kehidupan yang sungguh-sungguh mekar di tengah arus konsumerisme. Kehidupan yang sungguh-sungguh bahagia di tengah arus hedonisme.

Inilah “Cahaya” yang inspiratif, iluminatif, dan kontemplatif. Cahaya yang sesungguhnya menerangi setiap orang” (Yoh. 1 : 9). Cahaya yang memampukan kita untuk melakukan re-seeing - melihat kembali Sang Pencipta, diri kita, sesama dan seluruh ciptaan-Nya. Cahaya yang memampukan kita untuk berkontemplasi (bahasa Latin, contemplari berarti melihat). Kristus adalah Cahaya Allah, yang menolong kita untuk bercermin dan melihat gambaran diri kita yang telah didistorsi oleh dosa.

Cahaya yang menolong kita melihat gejolak di dalam batin kita. Kita bagaikan Smeagol dalam The Lord of the Rings yang memiliki dua kepribadian yang saling bertentangan: Smeagol yang baik dan Gollum yang dikuasai oleh kejahatan. Dia membenci dan mencintai cincin kekuasaan; membenci dan mencintai kehidupan kita. Ia yang mengalami konflik diri yang berharga dengan kebobrokan diri yang dirusak oleh keinginan untuk mendapat cincin kekuasaan. Di satu sisi, ia ingin membantu Frodo menyelesaikan misinya (menghancurkan cincin tersebut) namun di sisi lain, ia juga ingin membunuh Frodo dan merampas cincin kekuasaan darinya. Ketika Frodo dibawa oleh Gollum ke dalam sebuah gua yang gelap di mana terdapat seekor laba-laba raksasa dengan harapan agar Frodo mati dimangsa, Frodo menyalakan cahaya yang diterimanya dari Elf. Cahaya tersebut menolongnya melihat di dalam gua yang gelap. Kristus adalah Terang Dunia yang menolong kita melihat Allah, diri kita dan dunia dengan benar.

 

Manusia cenderung mengejar kebahagiaan ilusional karena merasa dirinya tidak berharga. Frederick Wilson Taylor membawa stopwatch ke pabrik Midvale Steel di Philadelphia pada dekade pertama abad ke-20. Ia menulis (1911), “Pada masa lalu, manusia harus diutamakan, pada masa depan, sistemlah yang harus diutamakan.” Tidak mengherankan apabila manusia terobsesi dengan pandangan, “Nilai manusia ditentukan oleh apa yang dapat dihasilkannya.” Dunia kita menganut prinsip, “Kamu berharga apabila kamu menang dalam kompetisi.” Atau, “Kamu berharga apabila kamu mendapatkan juara pertama,” sehingga kita berjuang untuk menang dengan mengalahkan orang lain. Padahal nilai kita terletak pada identitas kita sebagai anak-anak Allah, “yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1 : 12). Terang tersebut memberikan kita identitas sebagai anak-anak Allah. Kita tidak lagi perlu mendefinisikan identitas kita menurut pandangan dunia, tapi berdasarkan relasi kita dengan Allah. Bukan prestasi yang menjadikan seseorang berharga, melainkan relasinya dengan Allah.

Melihat manusia melalui terang tersebut berarti melihat nilai manusia (human worth), karena manusia diciptakan menurut imago Dei. Tuhan tidak meninggalkan manusia dalam keberadaannya yang rapuh. Sebaliknya, Tuhan mengambil rupa manusia, rapuh dan lemah. “Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh. 1 : 14). Dan Dia memilih untuk “diam” di antara kita, dan menjadikan kita bait-Nya (2 Kor. 6 : 16; Ef. 2 : 21). Kata “diam” (skenoo) adalah kata yang juga dapat digunakan untuk menerjemahkan kata shekinah (Ibrani), yang menggambarkan kehadiran Allah. Dia hadir di tengah manusia.

Natal tidak sekadar momen merayakan kelahiran Kristus, tetapi juga sebuah lembaran baru untuk melihat setiap pribadi dalam perspektif baru yang Tuhan berikan kepada kita. Kristus berkata, “Sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia” (Yoh. 1 : 51). Kristus adalah terang untuk mengiluminasi dan menginspirasi, karena Dia menyingkapkan siapa Allah, agar kita tidak lagi berada dalam keterpisahan, melainkan terhubung dengan-Nya. Inilah Natal yang Autentik, terang yang menolong kita untuk melihat kembali.

Pdt. Lan Yong Xing - Pendeta Jemaat GKI Duta Mas - Batam