Masa Prapaskah Yang Semakin Bermakna Dan Berkesan

 

Mari kita berPuasa

Yuk ... kita puasa? ... Emang puasa buat apa? ... Kan Tuhan Yesus sudah menyelamatkan kita mengapa kita puasa lagi?... Ogah ah, menyiksa diri, lebih enak makan yang enak-enak daripada puasa. Kenapa puasa, emang lagi ndak punya duit yah? Puasa ... ah tidak keren … itu mah semacam diet kan? Ah, saya berpuasa supaya keinginan saya dikabulkan Tuhan. Ah, saya berpuasa untuk minta ampun kepada Tuhan. Saya berpuasa kan supaya bisa merasakan orang lain yang lapar dan haus seperti apa?

Itulah beberapa komentar ketika kata puasa terlontar, ataupun beberapa motivasi yang terungkap ketika kata puasa terlintas dan akan kita jalani. Lukas 5 : 33-35 adalah bagian Alkitab ketika Tuhan Yesus ditanya oleh orang-orang Farisi, mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa, seperti pada umumnya murid-murid Yohanes dan ibadah orang Yahudi pada waktu itu? Jawaban Yesus “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Lukas 5 : 34-35. Ketika Tuhan Yesus bersama para murid, para murid tidak berpuasa, tetapi ketika Tuhan Yesus tidak bersama para murid, maka mereka akan berpuasa.

Selain itu bagian ayat Alkitab yang lain menggambarkan puasa terdapat dalam Matius 6 : 16-18, pada waktu itu puasa juga hal yang biasa dilakukan tetapi yang terjadi, rupanya sekelompok orang menyalahgunakan puasa untuk menunjukkan kesombongan rohani mereka, dan Tuhan Yesus menegurnya “Apabila kamu berpuasa janganlah muram mukamu seperti orang munafik (maksudnya adalah orang-orang Farisi), supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa, sesungguhnya mereka sudah mendapat upah. Tetapi biarlah puasa yang dilakukan tidak diperlihatkan kepada orang-orang lain, tetapi Bapa kita di Surga tahu melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepada kita.

Puasa bisa dilakukan secara personal ataupun komunal. Dalam Masa Prapaskah ini maka aksi Puasa ini dibuka berdasarkan sukarela per pribadi. Dalam tradisi Kristen membuka keberbagaian bagaimana setiap orang berpuasa. Ada yang mengurangi makan, contoh: tidak makan siang hanya makan kenyang pagi dan malam, ada yang mengurangi makan dan minum pada jam-jam tertentu, ada yang tidak memakan yang disukainya/pantang, ada yang menahan diri dari tidak merokok, ada yang tidak melakukan kegiatan kesukaan rutinnya contoh : nonton bioskop, dsb. Berpuasa merupakan disiplin penyadaran akan lemahnya diri, puasa memiliki hikmah sebagai sarana pengendalian diri dari keserakahan dan ketergantungan pada jasmani. Semuanya dilakukan dalam rangka melatih hidup keagamaan yang lebih baik, tidak lepas kendali, harus mampu menahan diri dari nafsu jasmani dan keinginan daging. Kita gunakan waktu lebih banyak lagi untuk membaca Alkitab dan berdoa kepada Tuhan.

Salah seorang tokoh agama Santo Benediktus mengajarkan tentang puasa hati, terutama bagi mereka yang lemah fisik. Puasa hati adalah menahan diri dari tutur kata, pikiran, dan perasaan yang sia-sia. Jadi inti puasa adalah menahan diri dari perbuatan dan sikap yang menentang Tuhan. Seseorang yang berpuasa adalah seseorang yang rindu berada di dekat Tuhan, bukan untuk memaksakan kehendak diri kita kepada Tuhan, tetapi untuk merendahkan diri sehingga kehendak Tuhan menjadi kehendak kita.

Saat kita berpuasa juga dapat kita pakai sebagai media untuk melatih dan mempertajam spiritualitas dan iman yang kita miliki. Sehingga setelah berpuasa, seharusnya kita dapat mengalami perubahan hidup; agar hidup kita menjadi lebih arif dalam menghadapi berbagai persoalan dan pergumulan yang terjadi. Hasil dari puasa adalah kemampuan spiritual untuk mengendalikan diri kita menjadi lebih optimal. Sebagai sikap pertobatan, maka dalam mempraktikkan puasa seharusnya kita makin memiliki spiritualitas yang penuh kasih dan pengampunan kepada sesama.

Puasa bukan lagi sarana untuk memohon keselamatan melainkan ungkapan syukur dan persembahan diri kepada TUHAN. Puasa dalam pemahaman Kristiani harus ditempatkan sebagai ungkapan syukur dengan jalan menolong sesama yang membutuhkan. Itulah sebabnya puasa juga di kalangan Kristen adalah puasa yang juga sekaligus menjadi berkat bagi yang lain. Demikian juga, beberapa Jemaat GKI juga telah melakukan puasa dan berderma selama masa Prapaskah.

Panitia Paskah mengajak bagi Jemaat yang ingin ikut terlibat didalam puasa Prapaskah selama 40 hari sejak hari Rabu Abu dan berakhir pada hari Kamis Putih. Enam hari Minggu di antaranya tidak dihitung (tidak puasa) karena masing-masing merupakan “Paskah kecil”, yaitu peringatan kemenangan Yesus atas dosa dan kematian. Jumlahnya adalah 40 hari. “Angka 40 mengingatkan akan empat puluh tahun umat Israel menjelajah di gurun pasir sebelum memasuki Tanah Suci, empat puluh hari Musa berada di Gunung Sinai, dan terutama empat puluh hari lamanya Yesus berpuasa.”

Dana untuk sehari-hari kita, contoh: makan, nonton, berbagai hal kesukaan kita, yang kita hilangkan selama 40 hari masa aksi puasa Prapaskah dimasukkan ke kantong yang disediakan oleh gereja pada Ibadah Rabu Abu tgl. 6 Maret dan tgl. 10 Maret (Minggu Prapaskah pertama) dan akan dikumpulkan pada waktu Paskah.

Dana-dana yang terkumpul akan disalurkan untuk membelikan buku-buku terbitan Binawarga yang akan didonasikan bagi yang membutuhkan, selain itu untuk warga Ciranjang melalui GKI Cianjur kita mendonasikan untuk rumah belajar, demikian pula rumah singgah pasien Cianjur, demikian pula untuk kebutuhan rumah pemulihan Adelpos.

Selamat memasuki Masa Prapaskah yang bermakna dan berkesan.

 

A.I.S.L

 

*Tulisan diambil dari berbagai sumber.

 

Pdt. Agnes Irmawati Sunjoto Lukardie