Makna Di Balik Bencana & Tuhan Punya Cara

 

Makna Di Balik Bencana
Baca : Yakobus 4 : 13-17

“Sebenarnya kamu harus berkata : Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4 : 15

 

Banyak hal bisa terjadi dalam hidup ini. Baik hal yang diharapkan maupun hal yang sebetulnya sama sekali tidak diharapkan. Hal yang menyenangkan maupun hal yang tidak menyenangkan. Hal yang disebut sebagai keberuntungan maupun hal yang disebut sebagai kemalangan. Dan hal seperti ini berlaku untuk siapa saja, baik mereka yang sudah mengenal Tuhan maupun yang hidupnya masih jauh dari Tuhan.

Sekalipun peristiwanya sama buat semua, perbedaan toh tetap ada juga. Perbedaan itu ada pada cara manusianya memandang dan kemudian merespon peristiwa yang terjadi tersebut.

Pertama dan yang paling mendasar adalah membuat setiap orang yang menyadari bahwa hidupnya sudah menjadi milik Tuhan meyakini bahwa tak ada satu peristiwa pun yang terjadi dalam hidupnya yang di luar kendali Tuhan. Maka ketika terjadi satu hal yang tidak dikehendakinya dalam hidupnya, yang perlu dilakukan adalah bukan menggerutu atau bahkan marah kepada Tuhan, tapi segera memohon hikmat dari Tuhan agar bisa melihat dan memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan melalui peristiwa itu.

Thomas Edison, seorang jenius yang kreatif, saat itu sudah memiliki laboratorium megah di New Jersey. Suatu malam di bulan Desember 1914 laboratoriumnya itu terbakar hebat. Keesokan harinya ketika ia mengunjungi laboratoriumnya yang sekarang tinggal puing-puing itu, ia pun berkata : Bagiku ini sebuah bencana besar. Tapi di baliknya ada satu hikmat yang kudapat yakni bahwa oleh karena bencana ini maka segala kegagalan dan kesalahanku sekarang sudah terbakar habis semuanya menjadi abu. Terimakasih Tuhan, sekarang aku bisa memulai lagi dengan yang baru.

Bencana tidak selalu hanya berarti petaka, karena hikmat pun bisa kita dapat dari sana.

 

Tuhan Punya Cara
Baca : Roma 8 : 26-30

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8 : 28

 

Seorang pemuda terdampar di sebuah pulau kecil di tengah samudera. Ia penumpang dari kapal yang karam dihantam ombak beberapa hari yang lalu. Pulau tempat ia terdampar itu rupanya pulau tak berpenghuni. Maka ia membangun pondok dari dahan dan ranting serta dedaunan untuk tempat ia berteduh dan beristirahat tidur. Ia mengisi perutnya dengan makan bermacam buah yang ada, juga dengan menangkap ikan. Setiap hari ia berdoa memohon pertolongan dari Tuhan. Tapi rupanya pertolongan belum datang juga.

Sudah beberapa kali di kejauhan nampak kapal lewat. Tapi mungkin karena terlalu jauh maka lambaian tangan si pemuda tak dilihat oleh mereka.

Suatu pagi, si pemuda menyiapkan api untuk membakar ikan. Setelah api mulai membara, pemuda itupun segera berlari ke air untuk menangkap ikan. Rupanya pagi itu ikan-ikan agak kurang bersahabat, Sebab sudah hampir sejam berburu belum tertangkap satu ekor pun, dan tanpa terasa pemuda itu makin menjauh dari gubug pondoknya.

Setelah berhasil menangkap 4-5 ekor ikan maka ia pun berlari kembali ke pondoknya. Sambil berlari ia melihat ada asap hitam membumbung cukup tinggi. Asap dari pembakaran apa itu, tanyanya dalam hati. Betapa terkejutnya ketika ia melihat ternyata yang terbakar adalah pondoknya sendiri berikut beberapa lembar pakaian yang terjemur di sana. Pemuda itu hanya bisa menangisi apa yang terjadi. Sekian lama pemuda itu termangu memandangi pondoknya yang sekarang sudah menjadi arang dan abu, sampai ia tak mendengar ketika ada suara deru mesin mendekat dan suara orang memanggil. Sebuah kapal motor nelayan melihat asap membumbung dari jauh. Itu pasti tanda orang minta pertolongan, maka kami pun segera menuju ke sini kata orang yang di atas kapal.

Pertolongan Tuhan sungguh ajaib. Pondok yang terbakar, justru menjadi sarana datangnya pertolongan.

Tuhan punya cara sendiri untuk menolong anak anak-Nya.

 

(disadur oleh Esther SM. seijin penulis Bp. Handoyo GKI Sangkrah solo)

 

TPG. Esther Solichin