Love One Another

Matius 22 : 37-40

“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri. (Mat. 22 : 39)


Apa yang saudara tahu tentang gaya hidup para pejabat? Sebagian besar pejabat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, biasanya memiliki gaya hidup yang mewah, pakaian mahal, mobil mewah, dan gaji selangit. Namun, semua hal itu tidak berlaku bagi mantan presiden Uruguay, Jose Alberto Mujica Cordano. Sejak menjabat presiden pada periode tahun 2010-2015 ia seakan mendobrak ‘tradisi’ tentang para pejabat yang menjadikan jabatannya agar bisa menjadi orang kaya dan hidup bermewah-mewahan.

Jose Mujica dijuluki presiden termiskin di dunia karena mendonasikan 90 persen gajinya setiap bulan, yaitu 12.000 dollar AS atau hampir Rp. 120 juta, untuk berbagai kegiatan amal. Jose juga menolak tinggal di kediaman resmi kepresidenan di ibu kota, Montevideo. Mujica lebih memilih tinggal di tanah pertanian di luar ibu kota. Bahkan, jalan menuju kediaman Mujica belum dilapisi aspal. Selain itu, tidak ada penjagaan ketat pasukan elite kepresidenan. Hanya dua polisi dan anjingnya, yang terlihat mengawasi di pintu masuk pertaniannya. Kebiasaan Jose Mujica yang senang membantu rakyat miskin serta para pengusaha kecil, membuatnya sangat dicintai oleh rakyatnya. Apa yang dilakukan oleh Jose Mujica sangat menginspirasi. Hidupnya tidak hanya berorientasi untuk kebahagiaan dirinya sendiri, namun orang lain juga diutamakan.

Saudara, ada ungkapan bijak yang mengatakan “Always put yourself in other people’s shoes”. Makna ungkapan bijak itu adalah kita harus selalu menempatkan diri pada posisi atau keadaan orang lain. Ungkapan inilah yang sudah dilakukan oleh Jose Mujica dan telah diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam konsep hukum kasih.

Hukum kasih berisi dua hukum utama, yaitu pertama, mengasihi Tuhan dan kedua mengasihi sesama. Pada hukum yang kedua kita diperintahkan untuk mengasihi “seperti dirimu sendiri. Ungkapan “seperti dirimu sendiri” mengingatkan kita bahwa memang benar setiap manusia mengasihi dirinya sendiri. Coba perhatikan apa yang kita lakukan! Hampir semua tindakan dan usaha kita diupayakan untuk membawa kebahagiaan dan kebaikan bagi diri sendiri, bukan? Nah, hukum kasih yang kedua mengajak kita untuk mengasihi orang lain seperti itu. Mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri. Orang lain pasti menginginkan tindakan kasih dari kita, sama seperti kita menginginkannya dari orang lain.

Mengasihi orang lain seperti yang tercantum dalam hukum kasih adalah kewajiban kita sebagai umat kristen. Hukum kasih juga harus menjadi peringatan bagi kita saat hendak berelasi dengan orang lain. Misalnya saat kita hendak bersikap intoleran kepada orang lain. Bertanyalah pada diri sendiri. Apakah kita mau diperlakukan seperti itu? Apakah kita ingin dibeda-bedakan? Semua kembali pada kemampuan kita untuk menempatkan diri pada posisi atau keadaan orang lain. Bila didasarkan pada kasih, niscaya kita akan mengerjakan kasih terhadap sesama sebagaimana terhadap diri kita sendiri.

Paramita Ayuningtyas