LOST GENERATION

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan sebuah berita yang mengerikan terkait penggunaan obat-obat berbahaya yang dikonsumsi para remaja dan pemuda di berbagai daerah. Dampak yang timbul atasnya, disamping hilangnya nyawa penggunanya, mereka juga mengalami kehilangan kesadaran, bahkan harus dirawat di rumah sakit jiwa dengan pendampingan psikolog dan psikiater. Pertanyaannya, ada apa? Mengapa generasi muda memilih jalan hidup seperti itu?

Pertanyaan di atas sungguh sangat menggelisahkan. Para orangtua seperti kehilangan relasi dan komunikasi sehingga anak-anak mencari jalannya sendiri dan memilih jalan menurut polanya sendiri. Dalam pandangan Steven McCornack (McCornack, Steven. 2010. Reflect & relate. An introduction to interpersonal communication. 2nd edition. Boston - New York: Bedford/St. Martin’s.), kondisi demikian bisa terjadi karena gangguan atas romantic relationship yang mestinya menjadi sebuah model atau pola relasi dalam keluarga dan masyarakat. Tentu saja romantic relationship yang dikemukakan McCornack menjadi sebuah model relasi yang kuat dan tulus untuk mencapai sebuah komunitas yang sehat dan berkualitas. Ide membangun komunikasi dan komunitas yang sehat dan berkualitas menjadi demikian berharga mengingat banyaknya kasus yang melanda masyarakat (dan tentu saja gereja), khususnya hilangnya ruang pemahaman dari para orangtua terhadap generasi muda, demikian sebaliknya generasi muda terhadap orangtua. Relasi dan komunikasi demikian mestinya tidak menjadi sebuah tuntutan melainkan pemahaman. Namun perlu diperhatikan bahwa romantic relationship bukan tanpa resiko. Bahaya besar dari romantic relationship adalah munculnya sebuah komunitas semu (pseudocommunity). Bentuknya bisa bermacam-macam. Di hadapan orangtua, anak-anak bisa bersikap baik. Sementara tatkala berada dalam komunitas lain, mereka melakukan berbagai tindakan tak terkendali atau mengesampingkan nilai-nilai spiritualitas dan relasi yang semestinya. Itulah sebabnya tidak jarang para orangtua yang terkejut dengan berbagai peristiwa tragis yang menimpa anak-anak mereka padahal dalam pengamatan mereka anak-anaknya sungguh penurut dan penuh dedikasi. Dalam bentuk lain, gangguan romantic relationship tampaknya muncul juga di gereja. Dalam banyak percakapan yang ditopang oleh data kehadiran, gereja mengalami ‘kehilangan’ banyak remaja dan pemuda yang tidak terpantau keberadaannya. Mereka berada di berbagai tempat, meskipun beberapa di antaranya masih setia melakukan aktivitasnya di gereja.

Gambaran di atas menjadi sebuah ‘gunung es’ yang perlu ditelusuri secara mendalam. David Kinnaman (Kinnaman, David. 2011. You lost me. Why young Christians are leaving church ... and rethinking faith. Grand Rapids. Baker Books) menampilkan sebuah data lain lagi. Generasi muda digambarkan sebagai komunitas yang nomadik atau mencari jalan kehidupan sendiri karena komunitas iman (faith community) tidak memberi ruang yang memadai bagi mereka. Bahkan banyak generasi muda yang tidak lagi secara aktif memiliki intensitas relasi dengan Kristus. Tentu saja kondisi ini perlu disikapi dengan sangat hati-hati. Kehati-hatian dibutuhkan untuk memberi ruang yang memadai bagi generasi muda, tidak bisa dikekang “ini jangan” atau “itu tidak boleh” melainkan memberi kesempatan untuk berekspresi dalam koridor nilai-nilai yang dimiliki oleh sebuah komunitas. Mereka perlu diajak untuk berdialog secara spiritual, dari hati ke hati, mendengarkan getaran perubahan dunia yang melingkupinya, serta memberi kesempatan yang bertanggungjawab dan berkualitas bagi perjalanan masa depan iman mereka.

Sebagai ‘gunung es’ maka kita tidak boleh terjebak dengan tampak luar semata. Dalam beberapa perbincangan bersama para remaja dan pemuda diperoleh data munculnya jurang pemahaman yang demikian lebar. Para remaja dan pemuda sangat jengkel setiap kali mendengarkan kisah keberhasilan masa lampau dan menuntut generasi sekarang untuk mengembalikan kesuksesan masa lalu itu. Dalam beberapa kesempatan diperoleh informasi bahwa generasi muda merasa mendapat ‘tekanan’ masa lampau yang mesti dihadirkan kembali ke masa kini. Tentu saja tawaran yang menjadi tuntutan tersebut sulit dipenuhi. Generasi muda masa kini berjibaku dengan kemajuan teknologi yang jika dilewatkan dalam satu pijitan jempol saja maka kesempatan bisa melayang. Tentu ini berlaku bagi kondisi global yang dilanda demam on line yang membuat kecepatan tidak bisa lagi diukur dengan moda jalan kaki atau kendaraan bermesin. Kondisi global telah memaksa generasi muda berpacu dengan waktu dalam hitungan detik. Sementara itu generasi masa lampau, sekalipun menggunakan pesawat telepon engkol atau pijit, tidak secepat sekarang yang bisa menjangkau dunia dalam hitungan detik. Pada jaman globalisasi saat ini, seluruh informasi bisa diperoleh melalui media on line, termasuk berbagai berita hoax yang membuat kisruh dunia informasi.

Dengan mudahnya akses informasi itulah generasi muda memiliki banyak sekali kesempatan untuk berinteraksi dengan ‘dunia luar.’ Mereka membuat komunitas sendiri. Anehnya (dan ini memilukan), banyak generasi muda yang lebih mencintai komunitas maya di media sosial (medsos) ketimbang komunitas nyata yang kasat mata di depannya. Mengapa? Tampaknya dunia maya membebaskan mereka dari berbagai ikatan fisik sehingga berbagai kebebasan dapat diekspresikan dengan leluasa. Dari situ pula berbagai tawaran yang menggiurkan membuat banyak generasi muda terperosok di dalamnya. Meskipun harus diakui bahwa percepatan dunia maya tidak bisa dicegah, alih-alih dihambat, bukankah akan lebih baik difasilitasi dengan sebuah aktivitas yang membuat mereka berkarya dan berdaya, memberi ruang ekspresi tanpa kehilangan kualitas teologi yang kita miliki sebagai gereja milik Allah.

Terhadap kondisi yang dihadapi di atas, David Kinnaman menawarkan 50 gagasan untuk menjangkau pemuda. Di sini akan disampaikan beberapa saja yang mungkin baik untuk direnungkan dan ditindaklanjuti.

5 contoh gagasan yang ditawarkan Kinnaman perlu kita simak bersama. Pertama membuat koneksi. Yang dimaksudkan koneksi adalah membangun relasi berkualitas yang membuat generasi muda mendapat ruang yang memadai. Kedua menggunakan waktu dengan bijak. Siapapun kita, kita berada dalam kisaran waktu yang terus bergulir 24 jam. Di situ kita berproses dan karenanya mesti memanfaatkannya secara bijak dan bertanggungjawab. Ketiga jadilah mentor yang baik bagi generasi muda. Ini mungkin terdengar sulit. Gagasannya adalah kesediaan untuk menjadi pendengar yang baik sekaligus memberikan sikap respek atas aktivitas generasi muda. Secara psikologis, kondisi ini benar-benar membahagiakan bagi mereka karena karya mereka diapresiasi dan gagasannya didengarkan. Ini menjadi semacam kebutuhan generasi muda, didengarkan dengan sepenuh hati. Keempat libatkan generasi muda. Salah satu kebutuhan gereja adalah keterlibatan seluruh anggotanya. Demikian juga generasi muda yang menjadi masa depan gereja, mereka perlu menikmati perjalanan pelayanan bersama. Berikan apresiasi atas karya yang mereka kerjakan, bahkan berikan kesempatan yang luas sehingga ruang pelayanan semakin membuat generasi muda menikmati karyanya. Kelima share power. Salah satu kebahagiaan besar bagi generasi muda adalah ketika mereka dilibatkan dan dapat memutuskan sesuatu bagi mereka sendiri. Sharing power ditujukan agar generasi muda mampu bertanggungjawab atas keputusan yang mereka buat. Di sini yang disorot bukanlah menyangkut keputusan semata melainkan peluang yang dapat mereka lakukan untuk menjangkau masa depannya dengan keputusan yang benar, akurat, dan bertanggungjawab.

Kelima hal di atas (yang diambil secara acak dari 50 gagasan Kinnaman) boleh jadi menginspirasi generasi muda untuk membangun kehidupan mereka sehingga mereka benar-benar mendapat tempat dalam seluruh perjalanan hidupnya. Keberadaan mereka sebagai generasi muda dalam gereja dan masyarakat sungguh-sungguh diberi tempat dan diapresiasi. Apresiasi menjadi sebuah kata kunci yang akan membangun kehidupan generasi muda dalam menempuh perjalanan hidupnya. Mereka menentukan jalan hidupnya dengan landasan yang kuat, meneladani para pendahulunya, bahkan menata ruang kehidupan dengan lebih baik, dan memanfaatkan kesempatan yang diberikan secara bertanggung-jawab. Para pinisepuh mesti rela melepaskan tongkat estafet kepemimpinan dan masa depan kepada generasi muda. Mereka perlu mendapat kepercayaan dengan nilai-nilai dan koridor norma yang teruji dan berkualitas. Karena itu teladan hidup menjadi sebuah kebutuhan sehingga generasi muda bisa menunjukkan karyanya juga secara berkualitas. Boleh jadi inilah yang disampaikan surat 1 Timotius 4 : 12, “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.”.

Selamat menyambut masa depan. Selamat menyiapkan generasi muda yang berkualitas.

Pdt. Mulyadi - Penulis adalah Ketua Bidang Persekutuan BPMK GKI Klasis Jakarta Utara