Lepaskan Kami Daripada Yang Jahat

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, judul renungan saat ini adalah “Lepaskanlah Kami Daripada Yang Jahat”. Kata-kata ini seringkali kita ucapkan pada saat Doa Bapa Kami diucapkan. Namun apakah maksud dari perkataan ini? Apakah yang dimaksudkan berarti kesurupan seperti cerita Injil di Markus? Tentu bukan itu saja, melainkan perkataan ini menjadi peringatan kepada kita agar menyadari adanya keterikatan-keterikatan yang menggiring kita kepada kuasa kejahatan. Ada beberapa kesalahan-kesalahan yang sudah menjadi sebuah kebiasaan sehingga kita menganggap itu biasa saja bahkan dianggap benar.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, apakah maksud dari kesalahan yang sudah dianggap biasa saja? Saya ambil contoh kecilnya adalah penggunaan kata absen atau absensi. Kata ini kita serap dari bahasa Belanda absentie yang maknanya ketidakhadiran. Lawan katanya adalah presentie yang bermakna kehadiran. Dalam bahasa Inggris dia disebut dengan absence dan lawan katanya adalah attendance.[1] Namun entah bagaimana jalan ceritanya, di negeri kita absensi malah dimaknai dengan kehadiran. Kelirumologi ini menjadi sebuah kebiasaan sehingga kita tidak merasakan itu sebuah kesalahan bahkan dianggap kebenaran. Contoh yang kedua adalah penggunaan kata acuh, apakah makna dari kata ini? Seringkali orang berpikir bahwa acuh itu adalah cuek. Kelirumologi ini juga menjadi sebuah kebiasaan yang terjadi di tengah kita, padahal menurut kamus besar bahasa Indonesia kata acuh ini berarti peduli. Namun entah mengapa kata ini mengalami perubahan makna menjadi tidak peduli. Kedua contoh di atas adalah sebuah kesalahan yang menjadi sebuah kebiasaan sehingga kita seringkali tidak menyadari kesalahan yang ada atau bahkan tidak tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, keterikatan akan dosa yang menjadi sebuah kebiasaan dapat membuat kita sebagai umat beriman tidak menyadari kesalahan kita. Kita begitu terikat erat dengan dosa, sehingga saat ada orang lain menegur kita ataupun memperingatkan kita, kita tidak menyadari kesalahan tersebut dan menganggap dosa tersebut sebagai hal yang lumrah atau menjadi sebuah kebenaran. Oleh karena itu, ini seharusnya membuat kita dapat menyadari dosa yang membuat kita terikat dan menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekeliling kita. Melepaskan diri dari yang jahat berarti kita tidak mau lagi terikat akan kuasa kegelapan yang membuat diri kita tidak lagi hidup bersama dengan Tuhan.

Paulus di dalam Korintus mengingatkan tentang bagaimana keadaan jemaat di Korintus yang ingin membebaskan diri dari keterikatan mengenai makan makanan persembahan berhala. Paulus mengajarkan bagaimana untuk melepaskan diri dari keterikatan tersebut harus dilakukan dalam sebuah komunitas bukan hanya diri sendiri saja. Mengapa? Karena Paulus melihat ada orang-orang yang dapat dengan mudah membebaskan diri dari keterikatan tersebut, namun ada juga golongan yang dikatakan “lemah hati nurani” sehingga mereka kesulitan untuk melepaskan diri dari keterikatan tersebut. Paulus di dalam Korintus menginginkan umat agar dapat saling menghargai perbedaan tersebut dan menginginkan agar keterikatan tersebut dihilangkan bersama-sama dalam komunitas. Ini berarti, keterikatan terhadap dosa diharapkan jemaat di Korintus saling membantu untuk membebaskan diri dari keterikatan antar satu dengan yang lain.

Umat yang terkasih dalam Yesus Kristus, semua orang dapat terjerat dengan roh yang cemar tanpa terkecuali. Keterikatan terhadap kemarahan, dendam, harta benda, ketamakan, kenikmatan diri, nafsu seksual, kesombongan rohani, dan narkoba, semua hal ini dapat membuat kita jauh dari Tuhan. Orang-orang yang terikat akan hal tersebut akan perlahan-lahan menolak kehadiran Tuhan dalam kehidupannya, karena keterikatan itu membuat kita menjadi egois dan tidak peduli terhadap yang lainnya.

Marilah umat yang terkasih dalam Yesus Kristus kita belajar :

  1. Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai langkah kita untuk membebaskan diri dari keterikatan dosa yang membuat kita hidup jauh dari Tuhan.
  2. Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai langkah untuk membebaskan diri kita dari dosa yang mungkin tidak kita sadari.
  3. Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai cara kita saling mengingatkan satu dengan yang lain untuk membantu orang lain terbebas dari dosa yang mengikat.
  4. Lepaskanlah kami dari yang jahat sebagai cara kita untuk menjadikan otoritas Tuhan sebagai pedoman dalam kehidupan kita.

 

Soli Deo Gloria

 

[1] https://www.kompasiana.com/gustaafkusno/absensi-maknanya-kehadiran-atau-ketidakhadiran-sih_552ff6ce6ea8344d768b4588

​Pdt. David Roestandi Surya Sutanto