Laporan yang Profesional

Setelah GKI, dalam berbagai lingkup pelayanan, telah membuat berbagai program pelayanan dengan tujuan dan sasarannya, serta menetapkan anggarannya dan kemudian merealisasikan program-program tersebut, tibalah saatnya untuk melaporkan bagaimana program tersebut berjalan. Seberapa baik kewajiban-kewajiban dari para pelayan dilaksanakan. Seberapa dapat dipercayakan untuk mengelola sumber-sumber daya Gereja. Itu artinya para pelayan tersebut mesti mempersiapkan diri untuk dapat menjawab pertanyaan yang menyangkut pertanggungjawabannya.

Pepatah bijak mengatakan, “Seseorang yang sudah mampu menerima kesalahan dirinya, mengakui kelemahannya, akan lebih mudah melakukan perbaikan diri agar tidak mengurangi kesalahan yang sama.” Kalimat pepatah bijak ini hendak mengajak setiap pembacanya pergi ke masa lalu. Mereka diminta untuk memperhatikan dengan seksama rangkaian peristiwa yang terjadi. Semakin seksama menelusuri peristiwa masa lampau semakin tertemukan pembelajaran yang berharga. Pembelajaran itu adalah “Saya makin mengenal siapakah saya. Saya semakin mengenali kekuatan saya. Saya menyadari kekeliruan saya”.

Senada dengan yang diungkap dalam Pengkhotbah 1 : 13 yang mengatakan “Aku membulatkan hatiku untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadi di bawah langit. Itu pekerjaan yang menyusahkan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan diri”. Penulis Pengkhotbah pada bagian ini hendak menegaskan bahwa ia berketetapan dalam hatinya: hendak dengan akalnya memeriksa dan menyelidik segala sesuatu yang terjadi di bawah langit. Memakai akal berarti membedakan yang salah dan yang benar, serta menganalisis sesuatu dengan pendekatan sains yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak terpengaruh oleh asumsi yang amat subjektif. Pengkhotbah memahami bahwa upaya ini harus dilakukan dengan upaya yang gigih! Hendaklah ketika memeriksa dan menyelidiki segala yang terjadi, termasuk yang di masa lampau itu, dengan memusatkan perhatian penuh. Pelajari dan ujilah dengan teliti! Jika belum mengalami kelelahan diri jangan-jangan belum melakukan pemeriksaan dan penyelidikan.

Menyusun laporan atau akuntabilitas pelayanan mesti dilakukan dengan profesional. Artinya laporan tersebut selain mengandung muatan realitas masa lalu tetapi juga mengandung semangat untuk memperbaiki, mengembangkan dan memotivasi diri dalam karya layanan di masa yang akan datang. Belajar dari kegigihan Pengkhotbah yang dengan amat serius memeriksa dan menyelidiki maka Gereja terpanggil juga untuk dengan serius memeriksa diri dan melaporkan segenap program karya layanan Gerejawi yang sudah berjalan.

Para pelayan Tuhan mesti menghayati diri sebagai Pelayan yang dipercaya oleh Tuhan. Perumpamaan bendahara yang tidak jujur menegaskan betapa besarnya Allah mempercayakan rekan sekerja-Nya dalam karya bagi dunia. Bendahara (Yun : “Oekonomos“) rumah tangga adalah seseorang yang dipercaya untuk mengelola keuangan rumah tangga, mengatur pembantu-pembantu yang lain dalam rumah tangga tersebut, dan juga dipercaya untuk membantu mengatur anak-anak dari tuan rumah (Galatia 4 : 2). Pada prinsipnya, seorang bendahara mengatur sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya sendiri. Dalam bagian lain Tuhan Yesus mengatakan bahwa siapa yang diberi dan dipercaya banyak, maka kepadanya akan dituntut lebih banyak (Lukas 12 : 48). Bukankah ini merupakan suatu kehormatan bagi para pelayan Tuhan?

Kehormatan yang diberikan oleh Tuhan mesti dijaga dengan memberikan laporan professional. Sekurang-kurangnya 3 hal berikut merupakan indikasinya :

  1. Laporan memperlihatkan kejujuran. Murid Kristus dipanggil untuk mempertanggungjawabkan apa yang diperbuat. Murid Kristus tidak pernah dipanggil untuk memanipulasi apa yang telah diperbuat demi kesenangan banyak orang. Kejujuran justru membawa pada situasi di mana murid-murid Kristus menghadapi realita dan semakin terlatih. Sebaliknya ketidakjujuran justru membawa para murid lari dari realita dan membuatnya semakin kerdil dan tak berdayaguna.
  2. Laporan yang memperlihatkan seberapa efektif dan efisien program berjalan. Sejak penyusunan program telah disadari realita minimnya sumber daya manusia dan dana. Kedua hal itu diakui seringkali menjadi kendala utama dalam menciptakan program-program pelayanan yang sungguh relevan bagi GKI. Setelah program berjalan tentu kita memiliki “rekam jejak” yang amat berguna untuk mengukur seberapa tepat sasaran tercapai serta seberapa banyak waktu dan dana yang terpakai.
  3. Laporan yang mempertanggungjawabkan keuangan dengan transparan. Gereja sebagai lembaga publik harus bisa menerangkan bagaimana dana tersebut didapatkan, kemana dana tersebut dibelanjakan, dan berbagai macam pertanggungjawaban lainnya.

Laporan yang profesional sesungguhnya mengandung muatan reflektif bagi tiap person yang terlibat. Laporan pada akhirnya menolong orang yang berwenang dalam program Gereja merenung : apakah telah berkarya dengan optimal. Seseorang diketahui setia atau tidaknya justru dari perkara-perkara yang kecil. Lukas 16 : 11 mengatakan, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Hal Mamon yang tidak jujur di sini maksudnya adalah kekayaan yang sementara dan semu, seperti halnya pada kasus yang tidak adil dan tidak halal - siapa yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Itu artinya Laporan yang disusun dengan professional pada akhirnya mengantar kita semakin siap menerima Perkara yang lebih besar lagi dari Allah.

Pdt. Pramudya Hidayat - Penulis adalah Wakil Sekretaris Umum BPMK - GKI Klasis Cirebon