Kita Adalah Saudara

 
Markus 3 : 20-35
 
 
Jawab Yesus kepada mereka:Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata:Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku. Markus 3 : 33-35.
 
Ketika kita di tanya berapa saudara kita? Langsung kita teringat berapa saudara kandung yang kita miliki. Tetapi bacaan ini hendak mengingatkan kepada kita selain saudara kandung kita memiliki saudara dalam iman. Istilah saudara dalam KBBI memiliki arti orang yang seibu seayah (atau hanya seibu atau seayah saja); adik atau kakak; saudara yang seiman yang kita miliki karena kita bersama-sama percaya dan memiliki Bapa yang satu, kita bersama-sama mengucapkan Doa Bapa Kami.
 
Ada sebuah kisah seorang pendeta menghadari suatu konferensi dimana sejumlah pemimpin Kristen terkemuka hadir disana. Perbincangan ini berlangsung dengan serunya, dan si pendeta ini merasa tidak dapat mengikuti isu-isu teologi dan filosofis yang di diskusikan saat itu. Ketika tiba saat makan siang, beberapa pendeta berkumpul dan juga seorang profesor seminari diminta untuk doa makan siang mereka. Si pendeta kemudian berpikir : “Wah doa makan siang ini akan seperti kuliah di sekolah teologi.”
 
Betapa terkejutnya pendeta itu mendengar sang professor berdoa, “Bapa kami yang di Surga, aku senang hidup hari ini. Dan aku senang duduk bersama-sama saudara-saudaraku, menyantap makanan enak dan berbicara tentang urusan Kerajaan Allah. Aku tahu Engkau ada di meja ini dan aku bahagia. Aku ingin mengatakan kepada-Mu di depan saudara-saudaraku bahwa aku ini mengasihi-Mu, dan aku akan melakukan apa pun untuk-Mu yang Kau minta untuk aku lakukan”. Doa yang sederhana yang keluar dari hatinya, yang keluar dari penghayatan imannya dan bukan dari kepandaiannya. Tuhan mengetahui diri kita tidak sebatas pemahaman kita, tetapi apa adanya diri kita, bahwa di hadapan Tuhan kita semua adalah bersaudara, ketika kita melakukan kehendak-Nya termasuk kita saling mengasihi, saling mengampuni dan saling menerima didalam segala keterbatasan dan kelemahan kita.
 
Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 1 Yoh. 4 : 7-8.
 
 
Salam hangat, Saudarimu

Pdt. Agnes Irmawati Sunjoto Lukardie