“Kecil Tapi Berdampak”

“Harapan itu ibarat jalan setapak di dalam hutan. Di sana tak pernah ada jalan. Tapi, jika Anda berusaha menelusurinya, pasti jalan itu akan terbuka.” – Lin Yutang

“Pak, maaf Ibu sudah tidak ada harapan untuk sembuh.” Kalimat yang ke dua mengatakan, “Ya memang ada benjolan di leher, semoga itu bukan tumor ganas.” Dua kalimat seperti ini sangat biasa kita dengar berhubungan dengan  kondisi penyakit yang dialami seseorang. Ke dua kalimat itu mengandung 2 pengertian yang berbeda. Kalimat pertama menyiratkan bahwa si pasien sudah berada dalam kondisi “terminal”, secara medis sudah tidak mungkin terjadi kesembuhan dari sakit penyakitnya. Kalimat ke dua menyiratkan adanya celah di tengah-tengah ketidakpastian diagnosa (pemeriksaan) dokter. Celah itu adalah sebuah pengharapan, semoga ... mudah-mudahan ... sampai ada hasil pemeriksaan lanjut yang memastikan.

Celah itu mungkin tidak terbuka dengan lebar, terang itu bukan dari sinar matahari, tapi dari sebuah lilin kecil ... tetapi sanggup menerangi seluruh ruangan. Demikian juga dengan sebuah pengharapan. Kadang hanya celah sempit di tengah reruntuhan tembok, tapi disitulah terbukanya sebuah pengharapan. Betlehem (rumah roti), bukan sebuah kota besar di daerah Yerusalem, pedesaan. Tapi dari situlah lahir seorang Juruselamat manusia ... Tuhan Yesus Kristus.

Di sekitar kita ada begitu banyak bentuk-bentuk kegelapan, kebusukan, kehancuran bahkan kematian. Teologia Kematian membuat sebagian orang kehilangan pengharapan hidup sejahtera di bumi ini. Tetapi teologia Pengharapan membuat kita terfokus pada kehidupan. Terang yang akan datang itu ada di sana.

Selamat memasuki minggu – minggu Adven. Selamat menghayati proses memaknai kedatangan Tuhan Yesus Kristus dalam dunia dan dalam kehidupan pribadi kita semua.

Tuhan memberkati.

Pdt. Daud Solichin