Kebun Anggur Tuhan (Yesaya 5 : 1-7)

 

"Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur 7Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran."

Yesaya 5 : 1, 7

 

Buah anggur. Buah yang menarik, rasanya enak, dan juga cukup mahal harganya. Buah yang memiliki kualitas seperti ini, tentu bukan berasal dari tumbuhan liar yang bermunculan di tepi jalan, melainkan telah mendapatkan suatu perawatan khusus. Di dalam Alkitab istilah kebun anggur muncul bukan tanpa sebab. Istilah ini berulang kali disebutkan untuk menggambarkan umat Israel (ay. 7), umat yang di dalam Perjanjian Lama disebut sebagai umat pilihan. Umat yang Tuhan pelihara sedemikian rupa supaya menjadi saluran berkat bagi seluruh bangsa.

Namun kebun anggur itu tidak lagi menghasilkan buah yang baik, sehingga istilah itu tidak lagi eksklusif dimiliki oleh bangsa Israel, melainkan kepada setiap orang percaya, yaitu kita. Menjadi kebun anggur Tuhan, berarti kita adalah kepunyaan Tuhan. Karena Tuhanlah yang mengusahakan segala yang baik bagi kita. Menjadikan kita lahan yang subur, sebagai tempat tumbuhnya pohon-pohon dan tanaman-tanaman yang menghasilkan buah yang manis. Tidak hanya manis, namun juga menyehatkan orang yang menikmatinya.

Sebagai kebun anggur Tuhan, kita perlu memahami dan menghayati hakekat dan fungsi keberadaan kita sebagai umat Tuhan (gereja) di tengah dunia ini. Dengan demikian, kita perlu mempertanyakan dan merenungkan : “Kapan dan bagaimanakah kita mengalami hidup sebagai umat Tuhan? Apakah ketika kita beribadah ke gereja, ketika mengunjungi orang sakit, ketika mendoakan orang lain? Ya, tetapi tidak berhenti di situ saja. Lebih dari itu, kita harus hidup dalam kebenaran. Saat itulah kita dapat menghayati diri sebagai umat Tuhan.

Seperti yang disebutkan di ay. 4b, “Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik,” teks ini mengarahkan hati dan pikiran kita bukan kepada ‘buah’ secara fisik, tetapi justru menunjuk kepada ‘rasa’nya. Rasa yang disebut dalam perumpamaan ini menjadi perbandingan terhadap perilaku, sikap, kegiatan, dan pekerjaan dari umat Tuhan. “Dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman; dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran. (ay.7b). Tuhan selalu menantikan pohon anggur yang menghasilkan buah anggur yang baik. Marilah kita menjadi buah anggur yang manis.

 

Pdt. Timothy Setiawan