Kasih Yang Tak Terbatas

Umat yang dikasihi Tuhan, jika kita membaca Lukas 15 : 11-32, biasanya kita berpikir bahwa anak yang hilang itu hanyalah anak bungsu yang durhaka yang menyia-nyiakan kehidupannya hanya untuk kesenangan duniawinya. Akan tetapi, si sulung pun juga termasuk dalam kategori anak yang hilang. Oleh karena itu, ada dua tipe anak hilang berdasarkan perikop ini, yaitu :

  1. Anak yang menyia-nyiakan anugerah yang sudah didapatnya dengan melakukan kehidupan berdosa dengan melakukan pesta pora dan meninggalkan kehangatan bersama keluarganya.
  2. Anak yang hidup benar namun sebenarnya kehidupannya penuh dengan iri hati dan dengki dan perilaku ketaatannya sebenarnya untuk mendapatkan pujian.

 

Anak Bungsu Sebagai Anak Yang Hilang

Pada saat anak bungsu meminta hak atas warisannya yaitu sepertiga dari kekayaan ayahnya kita tidak diberikan dengan jelas latar belakang mengapa anak bungsu tersebut meminta hal tersebut kepada ayahnya. Namun, satu hal yang pasti anak tersebut dengan sengaja meninggalkan kediamannya untuk berfoya-foya menyenangkan dirinya sendiri. Akan tetapi, keadaan tersebut berubah 180 derajat saat uangnya habis dan negeri yang ia tinggali tersebut sedang dilanda bencana kelaparan.

Bencana kelaparan disertai dengan ketiadaan uang membuat ia harus bekerja sebagai penjaga babi. Hal ini sebenarnya adalah sebuah aib karena ia adalah seorang Yahudi dari keluarga terpandang namun harus menjadi hamba seorang kafir dan menjaga binatang yang dalam hukum agama Yahudi adalah najis atau haram (bdk. Imamat 11 : 7).

Peristiwa tersebut menjadi sebuah pembelajaran yang mahal bagi si bungsu yaitu kehilangan seluruh harta warisan yang ia terima. Pembelajaran ini membuat ia menyesal dan bertobat setelah ia mengingat keadaan di rumah bapanya yang penuh dengan kelimpahan dibandingkan dengan keadaannya yang sekarang yang penuh dengan kekurangan. Keputusannya adalah ia kembali kepada sang bapa bukan sebagai anak melainkan sebagai seorang budak (Lukas 15 : 19, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa).

 

Respon Sang Bapa Kepada Si Bungsu

Pada saat sang anak sudah mengakui kesalahannya dan siap untuk menjadi budak dari ayahnya, respon sang bapa berbanding terbalik dengan keinginannya. Sang bapa yang telah melihat anaknya kembali dalam kondisi mengenaskan tergerak hatinya oleh belas kasihan lalu berlari dan menyongsong serta dipeluk anaknya tersebut. Dalam hal ini, sang bapa berani melanggar tradisi dengan berlari kepada anaknya, karena dalam kebiasaan Yahudi orang tua tidak berlari karena akan mengikis martabatnya, hanya pelayan yang berlari.

Ucapan penyesalan dari anaknya dibalas oleh kasih yang begitu deras dari sang bapa. Sang bapa memberikan anaknya jubah dan sepatu. Dalam budaya Yahudi, budak tidaklah memakai jubah dan sepatu. Perintah untuk memakaikan jubah dan sepatu kepada si bungsu, menandakan sang bapa tetap melihat dirinya sebagai seorang anak. Perjamuan yang disediakan untuk anaknya juga meneguhkan bahwa sudah terjadi pemulihan di dalam hubungan bapa dan anak.

 

Anak Sulung Sebagai Anak Yang Hilang

Pada saat anak sulung mendengar bahwa adiknya telah kembali dan diberikan pesta oleh bapanya, anak sulung menjadi marah terhadap ayahnya. Respon si sulung bukanlah bersukacita, melainkan kemarahan bahkan ia tidak menganggap si bungsu sebagai adiknya. Hal ini dapat kita lihat dengan kata “anak bapa” yang dilontarkannya kepada sang bapa. Peristiwa tersebut menjadi puncak kekesalan anak sulung terhadap bapanya yang dianggap pilih kasih. Ia membandingkan dirinya dengan si bungsu dengan mengatakan Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Kemarahannya kepada sang bapa menegaskan bahwa selama ini dia pun terhilang walaupun berada dalam naungan bapanya.

Anak sulung juga adalah anak yang hilang, mengapa? Meskipun dia tetap berada dalam naungan bapanya namun dia hanya melihat hal itu sebagai hubungan ketaatan antara tuan dan hamba (ay. 29) bukan berdasarkan kasih. Anak sulung juga menginginkan pesta tersebut sebagai tanda pujian kepadanya karena ketaatannya.

 

Respon Sang Bapa Kepada Si Sulung

Pada saat anak sulung mengutarakan kekesalannya kepada sang bapa mengenai ketidakadilan yang terjadi kepada dirinya, respon sang bapa sungguh luar biasa. Sang bapa tidak marah bahkan tetap mengasihi dirinya. Ia bahkan menegaskan kepada anaknya bahwa segala kepunyaannya adalah milik si sulung juga. Di dalam Lukas 15 : 31, Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Dengan perkataan lain, si sulung dapat mengambil apapun dari kepunyaan sang bapa karena hubungan mereka dilandaskan cinta kasih dan kepercayaan bukan sebagai tuan dan hamba.

Sang bapa pun turut menegaskan kembali bahwa baik si bungsu dan si sulung adalah anak kesayangannya. Oleh karena itu, ia mengajak si sulung untuk bersukacita bahwa terjadi sebuah perubahan hidup dari si bungsu. Anak sulung diajarkan untuk menerima bahwa kasih sang bapa kepada anak-anaknya demikian besar melampaui segala hal yang ada

 

Refleksi

Injil Lukas 15 : 11-32 sebenarnya tidak hanya terfokus kepada anak yang hilang melainkan begitu derasnya kasih seorang bapa terhadap anak-anaknya. Sang bapa tetap melakukan pengampunan kepada si bungsu yang meninggalkannya untuk merasakan kenikmatan duniawi. Dia pun tetap memberikan yang terbaik kepada si sulung, walaupun si sulung mempertanyakan kasih bapanya terhadap si bungsu.

Melalui perikop ini, kita dapat belajar bagaimana kasih Allah yang begitu besar melampaui pemikiran kita. Sikap mengampuni dan berbelas kasih pertama-tama datang dari Allah. Dialah Allah yang mengasihi dan mengampuni anak-anak-Nya. Allah yang memulai inisiatif untuk berdamai dan membangun sikap rekonsiliasi dengan dunia dan manusia dengan kematian-Nya di atas kayu salib (lih. Kolose 1 : 19-20).

Perikop ini juga mengajarkan kepada kita agar jangan sekali-kali menjauhkan diri dari hadapan Tuhan sehingga kita memisahkan jurang pemisah antara kita dengan Tuhan. Terpisahnya hubungan kita dengan Tuhan akan merugikan kita. Oleh karena itu, saat masih ada kesempatan untuk berbalik kepada Tuhan, gunakanlah kesempatan yang ada untuk tertuju kepada Tuhan.

Kita semua juga harus belajar bahwa Allah mencintai semua manusia tanpa terkecuali. Pada saat Allah menolong seseorang yang mungkin secara pribadi pernah menyakiti kita, maka kita tidak boleh marah kepada-Nya. Sudah seharusnya kita ikut bersukacita karena orang yang dahulu jauh dari Tuhan hidupnya kembali kepada Tuhan.

Tuhan memberkati kita semua.

 

 

 

Pdt. David Roestandi Surya Sutanto