“Injil Yang Terbuka”

Renungan Warta Jemaat, 29 April 2018

Dunia masa kini sepertinya menuntut kita menjadi orang-orang yang produktif. Selama kita bekerja dan berkarya, selama itu juga kita dihargai. Tapi ungkapan seperti ini perlu juga dikritisi oleh kita sebagai pengikut Kristus. Bagaimana kalau saya sudah tidak produktif lagi? Apakah ada penghargaan dan penerimaan kepada saya? Dunia mungkin memberikan pandangan pesimistis, tetapi gereja dimana di dalamnya Pekabaran Injil, yang adalah Kabar Baik, mampu memberikan pandangan yang lebih luas dan mendalam tentang produktifitas. Produktifitas tidaklah berjalan simetris dengan usia produktif. Usia pasca produktif pun masih dapat bekerja. Bahkan bekerja itu seumur hidup dan selama Tuhan beri kesehatan dan kemampuan untuk kita melakukan kerja.

Mengabarkan Injil Kristus bukanlah suatu pekerjaan yang harus memenuhi kategori usia produktif atau tidak. Ini bentuk pekerjaan seumur hidup. Selagi hayat dikandung badan panggilan anak-anak Tuhan adalah mengabarkan Berita Sukacita kepada seluruh makhluk. Perhatikan kata “seluruh makhluk” yang dipakai dalam kalimat ini. Karena “yang bukan manusia pun” membutuhkan kasih, perhatian dan pemeliharaan Tuhan melalui tangan dan kaki kita.

Dalam Kisah Para Rasul 8 : 26-40, dikisahkan tentang seorang Etiopia yang memerlukan pendampingan seseorang yang membantu dia untuk bisa memahami Injil Tuhan Yesus. Tuhan mengutus Filipus kepadanya dan membuka pengertiannya … bahkan lebih lagi … pengertian Injil Kristus membuat ia memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus. Injil yang tadinya hanya tersebar dalam lingkungan orang-orang Yahudi sekarang “menyeberang” kepada orang yang bukan Yahudi. Perikop ini kadang menjadi wawasan pembuka dari pengajaran tentang Injil yang tersebar keseluruh dunia.

Belajar dari peristiwa perjumpaan Filipus dengan Sida-Sida Etiopia menjelaskan bahwa kebutuhan dunia untuk mendapatkan Kabar Baik selalu relevan. Ada 2 hal yang baik untuk kita jadikan pemikiran dan tindakan konkrit, yaitu :

  1. Kebutuhan pekabaran Injil lintas batas (suku, bahasa dan budaya, ideologi) yang berjalan terus seiring dinamika kehidupan manusia yang tinggal bersama dalam komunitasnya maupun di luar komunitasnya.
  2. Para Pekabar Injil pelintas batas yang dipanggil Tuhan untuk mengabdikan dirinya pada panggilan tersebut.
  3. Para Pekabar Injil pelintas batas perlu memperlengkapi diri mereka dengan Karakter Kristus. Filipus mau membimbing sampai sida-sida itu memiliki pemahamannya tentang Injil Kristus. Ada kerendahan hati dan kesabaran dan dilakukan dalam keramah tamahan. Bunda Theresa mengatakan, “Hendaklah engkau senantiasa ramah-tamah dan penuh kasih sayang. Janganlah orang yang datang kepadamu, engkau biarkan pergi dalam keadaan tidak lebih baik dan bahagia.”

Siapa para Pekabar Injil pelintas batas itu? Ya … siapa lagi ... saudara-saudara dan saya yang hampir setiap hari dan setiap saat berjumpa dengan sesama, baik dia itu ada dalam komunitas kita bahkan seorang “asing” di luar komunitas kita.

Selamat berbuah lebat. Tuhan berkati.

Pdt. Daud Solichin, M.Min.