Gereja Yang Dinamis

 

Pendahuluan

Gereja? Kuno! Membosankan! Kata-kata ditulis oleh Larry Crabb dalam bukunya Real Church. Larry Crabb mengungkapkan bahwa banyak orang yang akhirnya meninggalkan gereja karena gereja mulai kehilangan Roh panggilannya di tengah dunia ini. Gereja yang seharusnya menjalankan kasih di tengah dunia ini mulai hanya menjadi gereja yang peduli pada dirinya sendiri. Gereja mulai tidak menjadi dinamis dan tidak menjadi berkat dalam lingkungan sekitar.

Apa yang kita pikirkan jika kita membaca atau mendengar kalimat gereja yang dinamis? Apakah pikiran kita adalah gereja yang selalu berubah? Gereja yang mengikuti perkembangan jaman? Gereja yang up to date dengan generasi jaman now? Gereja yang peka terhadap konteks lingkungannya? Gereja yang menjadi trendsetter?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata dinamis berarti penuh semangat dan tenaga sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Lalu bagaimanakah menjadi gereja yang terus bergerak dan menyesuaikan dengan keadaan sekitar? Pada tulisan kali ini akan dibagi tiga bagian mengenai gereja yang dinamis :

  1. Gereja yang solid atau liquid?
  2. Gereja dengan generasi masa kini
  3. Gereja dengan konteks masyarakat Indonesia

 

Gereja Solid Atau Liquid?

Seorang sosiolog Zygmunt Bauman dalam bukunya Liquid modernity menyatakan bahwa konteks masyarakat pada zaman sekarang adalah masyarakat yang terus berubah dan masyarakat konsumen dimana semuanya dilihat sebagai sebuah komoditas. Di tengah konteks jaman yang selalu berubah, gereja-gereja seharusnya mengikuti perkembangan jaman namun apa daya, banyak gereja (terkhususnya gereja arus utama) yang bukannya menjadi gereja yang mengikuti perkembangan jaman malah menjadi gereja yang membeku (solid).

Untuk melihat sebuah gereja itu solid atau liquid maka kita perlu mengetahui lebih dalam mengenai arti solid atau liquid. Ciri khas solid menurut Rodger Nishioka, seorang teolog dari Columbia Theological Seminary, mencatat bahwa solid berkarakter pampat, keras, kaku dan sangat menolak pengaruh dari luar yang bisa mengubah bentuknya. Liquid adalah keadaan dimana sangat mudah berubah, mengalir, dapat berubah, tidak mempertahankan bentuknya.

Sebuah gereja dikatakan sebagai gereja yang solid adalah dimana gereja yang tadinya komunitas organisme menjelma menjadi komunitas yang organisasional yang kaku dan selalu terbuai dengan romantisme masa lalu. Gereja yang solid adalah gereja yang menjadikan ukuran sebagai segala sesuatu hal yang baku. Ukuran ini dalam arti bahwa kesuksesan sebuah gereja salah satunya adalah jumlah pertambahan jemaat ataupun banyaknya jumlah persembahan yang masuk. Efisiensi dan efektifitas menjadi hal yang sering diagungkan oleh gereja solid dalam kesehariannya. Selain itu, gereja yang solid adalah gereja yang sulit menerima pengaruh dari luar dan menganggap segala sesuatu dari luar adalah sebuah hal yang jahat.

Seorang teolog, Pete Ward mengusulkan bagaimana gereja harusnya menjadi gereja yang liquid yaitu gereja yang mengikuti perkembagan jaman sekarang. Pete Ward membayangkan bahwa gereja seharusnya menjadi gereja yang cair, tidak kaku, tidak formal, selayaknya seseorang yang sedang minum kopi di warung kopi dengan temannya. Kata kunci dari konsep liquid church ini adalah network atau jejaring. Komunitas gereja yang terjalin satu dengan yang lain tanpa bersifat hierarkis, bukan top-down, komunitas yang terjalin dari komunikasi orang-orang yang memiliki hati dan perasaan terhadap Kristus. Oleh karena itu, gereja semacam ini tidak menganggap pendeta sebagai orang yang bertanggung jawab mengelola gereja. Pendeta tidak lebih berperan sebagai rekan yang memandu perjalanan ziarah.

Apakah gereja perlu menjadi liquid? Kembali lagi bahwa kita tidak bisa terlalu ekstrim kiri ataupun kanan, mengapa? Karena sesuatu yang liquid pun membutuhkan sebuah wadah yang solid untuk melakukan sebuah bentuk. Inilah ketegangan yang dapat terjadi di dalam gereja terkhususnya antar-generasi. Kita harus setuju bahwa gereja haruslah mengikuti perkembangan jaman namun tidak menjadi bunglon dalam kehidupan bergereja. Untuk itulah tantangan gereja berikutnya adalah menghadapi generasi masa kini dengan kerumitannya sendiri.

 

Gereja Dengan Generasi Masa Kini

Dalam esai berjudul “The Problem of Generation,” sosiolog Mannheim mengenalkan teorinya tentang generasi. Menurutnya, manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio-sejarah yang sama. Maksudnya, manusia-manusia zaman Perang Dunia II dan manusia pasca-PD II pasti memiliki karakter yang berbeda, meski saling memengaruhi. Berdasarkan teori itu, para sosiolog membagi manusia menjadi sejumlah generasi: Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, lalu Generasi Z (sila cek https://tirto.id/selamat-tinggal-generasi-milenial-selamat-datang-generasi-z-cnzX).[1]

Salah satu ciri gereja yang dinamis adalah gereja yang bisa menjangkau generasi masa kini. Permasalahan kepemudaan merupakan hal yang kompleks di lingkungan gereja-gereja mainstream karena dianggap jumlah pemudanya semakin menurun. Selain itu, pemuda jaman sekarang dianggap tidak terlalu GKI oleh para pejabat gerejawi. Perbedaan pandangan yang dapat menyebabkan gereja tidak mengerti budaya generasi masa kini.

Perubahan cara pandang, pola pikir, kebudayaan, cara bekerja dapat membuat gereja ditinggalkan kaum mudanya. Sebagai contoh, pola bekerja pada generasi jaman dulu menganggap bahwa bekerja itu harus berkantor dan mempunyai jam kerja, sedangkan bagi pemuda jaman sekarang, bekerja itu dapat dimana saja termasuk rumah dan tidak terkungkung dengan waktu. Contoh ini saja seharusnya membuat gereja menyadari bahwa setiap masa mempunyai budayanya sendiri dan tidak bisa dipersamakan.

Perkataan “pemuda adalah pemimpin masa depan” bagi penulis, ini adalah sebuah hal yang absurd karena dengan ini menganggap bahwa pemuda belum bisa memimpin di masa sekarang. Mengapa tidak gereja mengatakan bahwa “pemuda adalah pemimpin masa kini?” Apakah pemuda dianggap belum memadai untuk memimpin sebuah gereja atau mengelola pelayanan gereja? Jika gereja (pejabat gerejawi) menganggap bahwa pemuda masa kini belum layak, maka sangatlah wajar jika akhirnya pemuda meninggalkan gereja dan mencari/membangun komunitasnya di luar gereja.

Pemuda GKI Kebonjati mempunyai konsep pelayanan yang menjangkau kaum muda dengan melakukan pendekatan secara personal, mengadakan kegiatan yang tidak hanya terkonsentrasi di gedung gereja, menggunakan sosial media untuk menjangkau kaum muda, menggunakan konsep jejaring untuk bisa mengetahui permasalahan kaum muda. Melihat pengalaman ini, maka dapat disimpulkan apabila gereja memberikan ruang pelayanan dan kepercayaan kepada kaum muda dengan menjadikan mereka subyek bukan obyek, maka mereka dapat melakukan hal yang luar biasa. Untuk itulah, gereja yang dinamis adalah gereja yang bisa percaya bahwa kaum muda dapat melakukan seuatu hal yang luar biasa.

 

Gereja Dan Konteks Masyarakat Indonesia

Kejadian bom di GKI Diponegoro menyisakan pertanyaan bagi penulis, apakah permasalahan keberagaman di Indonesia tidak ada perubahan yang signifikan? Ataukah permasalahan keberagaman mengalami penurunan? Bagaimana kehadiran gereja di Indonesia? Di dalam SBS.Net, Pdt. Alexander Urbinas mengatakan bahwa :

Pada akhirnya hanya dua pilihan bagi orang Kristen dalam menentukan sikap terhadap dunia –dalam tulisan ini terhadap isu kebangsaan–. Pertama, ialah pelarian, dan yang kedua adalah komitmen atau keikutsertaan. Pelarian berarti menyatakan sikap menolak pergumulan dunia, dengan cara berpaling daripadanya, membelakanginya, cuci tangan, bahkan tidak mau tahu. Sebaliknya komitmen dan keikutsertaan berarti dalam keprihatinan kita atas pergumulan dunia, kita menghadapkan wajah kita kepada dunia, membiarkan tangan kita kotor, lecet dalam pelayanan terhadap dunia akibat merasakan dalam lubuk hati kita gejolak kasih Allah yang tak dapat dipendam

Gereja tidak boleh mempunyai perasaan inferior complex yang akhirnya merasa diri tidak ada gunanya. Gereja seharusnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia haruslah mempunyai peran yang penting dalam membuat Bangsa Indonesia ini menjadi lebih maju. Pramoedya Ananta Toer mengatakan kalau golongan minoritas itu kuat, masyarakat tentu saja akan kehilangan nafsu-nafsu rasialnya. Maksudnya adalah gereja harus kuat dengan berani menunjukkan identitas diri terhadap masyarakat luas.

Martin Luther King Junior mengatakan bahwa menjadi gereja tidaklah cukup hanya menjadi seorang Samaria yang baik hati. Pernyataan seorang Martin Luther King seakan-akan membiaskan peran penting seorang Samaria tersebut. Tentu bukan itu yang dimaksudkannya, memang awal seseorang menjadi orang Kristen (pribadi) adalah sama seperti orang Samaria yang baik hati tersebut yaitu menolong seseorang tanpa mempedulikan agama, status sosial, dsb. Namun bagi Martin Luther King, hal itu tidaklah cukup sebagai gereja (komunitas).

Martin Luther King mengatakan bahwa, di antara jalur antara Yerikho dan Yerusalem masih banyak orang-orang yang akan terluka ataupun terbunuh karena jalur tersebut sangatlah rawan. Gereja harus melakukan lebih dari hanya sekedar orang Samaria yaitu bagaimana gereja dapat membuat jalur antara Yerikho dan Yerusalem aman. Ketidakamanan tersebut bagi Martin Luther King Jr. dikarenakan adanya kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Inilah yang harus peran gereja lakukan yaitu melakukan keadilan sosial dimanapun dia berada. Gereja yang dinamis berarti harus berperan serta aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Kedinamisan Gereja

Gereja yang dinamis adalah gereja yang mampu beradaptasi dalam lingkungan sekitarnya. Gereja yang dinamis adalah gereja yang tidak membangun tembok tinggi sehingga tidak berdampak dalam kehidupan sekitarnya seperti yang tertulis di dalam Roma 10 : 14, “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Gereja yang hanya memikirkan diri sendiri berarti bukan gereja yang mengikuti konteks jamannya. Gereja dipanggil sebagai tubuh Kristus untuk melakukan karya di tengah dunia ini.

Gereja yang dinamis berarti gereja haruslah cair namun tetap mempunyai wadah yang tepat dalam mengikuti perkembangan jaman sekarang. Gereja haruslah sesuai dengan konteksnya, sehingga kita sebagai umatnya pun juga harus ikut dalam perkembangan jaman dan tidak membanding-bandingkan jaman mana yang paling baik dikarenakan setiap jaman mempunyai karakteristiknya sendiri. Gereja yang dinamis berarti gereja yang sadar akan perkembangan jaman dan dapat beradaptasi dengan baik terhadap konteks jaman tersebut.

Tuhan memberkati kita.

 

[1] Bacaan lebih lanjut untuk mengenal generasi Z yaitu buku David Stillman dan Jonah Stillman. 2017. Generasi Z : Memahami karakter generasi baru yang akan mengubah dunia kerja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Pdt. David Roestandi Surya Sutanto