GEREJA

Kitab Kisah Para Rasul mengisahkan sebuah peristiwa yang menggemparkan di hari Pentakosta. Para murid mengalami pengalaman yang luar biasa. Mereka mendapatkan pencurahan Roh Kudus yang memberikan karunia untuk dapat berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain yang selama itu tidak mereka pahami. Sejak itu Injil tersebar ke segala penjuru dunia. Para murid mendapatkan kuasa sebagaimana yang dijanjikan Tuhan Yesus. Kuasa Roh Kudus yang memberi kemampuan kepada para murid melakukan tugas pemuridan (matheteusate).

Untuk pertama kali persekutuan orang-orang percaya disebut Kristen di Anthiokia. Para murid yang tadinya disebut sebagai 12 murid Yesus kini disebut sebagai gereja. Mereka bukan lagi 12 atau 120 individu pengikut Yesus. Mereka telah menjadi sebuah komunitas. Komunitas ini adalah komunitas Kerajaan Allah yang dinamis, diberi kepercayaan untuk melakukan Amanat Agung Tuhan Yesus dan mereka adalah ekklesia (ek: keluar; kaleo: memanggil).

Pekerjaan Roh Kudus nyata dalam kehadiran gereja. Gereja adalah hasil karya Roh Kudus yang berkenan menghimpun umat-Nya dari segala suku, bangsa, kaum, dan bahasa ke dalam suatu persekutuan di mana Kristus adalah Kepala. Keberbagaian umat ini adalah manifestasi tubuh Kristus di dunia. Alkitab, khususnya Perjanjian Baru menegaskan bahwa tidak ada ‘agen’ lain sebagai tubuh Kristus selain daripada gereja. Dengan kata lain, hanya gereja yang dipilih Allah untuk melanjutkan Misi Allah di tengah dunia ini.

Disadari bahwa keterpilihan gereja sebagai pewarta Misi Allah adalah sebuah anugerah. Gereja yang adalah kumpulan orang-orang berdosa memerlukan pertobatan dan pembaruan yang terus-menerus. Gereja senantiasa memerlukan bimbingan, pemeliharan dan teguran Roh Kudus yang terus menerus membarui, membangun dan mempersatukan. Martin Luther: Ecclesia Reformata, Semper Reformanda (Gereja yang diperbarui, selalu diperbarui).

Apa ciri gereja? Gereja bukan sekadar sekumpulan orang, melainkan sebuah persekutuan. Persekutuan yang mempunyai pengakuan satu Allah, satu Tuhan dan satu baptisan (Ef. 4 : 5-6). Inilah yang menjadikan gereja dari segala tempat dan abad menjadi gereja yang esa. Keesaan adalah ciri gereja sebagaimana Allah itu esa dalam Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Ciri kedua, gereja adalah persekutuan yang dikuduskan dalam kebenaran (Yoh. 17 : 17,19). Ciri ini menunjukkan bahwa hakikat gereja adalah bukan lagi milik dunia melainkan milik kepunyaan Allah. Sebagai milik kepunyaan Allah, gereja diutus untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar dari Allah. Gereja adalah persekutuan yang diutus ke dalam dunia untuk melaksanakan Misi Allah yaitu menghadirkan kerajaan-Nya.

Ciri ketiga, persekutuan ini selalu terhubung dengan semua orang percaya dari segala tempat dan sepanjang zaman, dan mencakup segala suku, bangsa, kaum, dan bahasa. Gereja adalah persekutuan yang katolik (am). Ciri ketiga adalah persekutuan yang menjalankan pengutusan. Tidak ada lagi pembatas apalagi pemisah dalam persekutuan ini. Dalam Yesus Kristus telah dilenyapkan dinding pemisah dan dinyatakan serta dibuktikan melalui persekutuan orang beriman yang bersifat am (umum).

Ciri keempat, gereja adalah persekutuan yang bertekun di dalam dan dibangun di atas ajaran para rasul tentang Injil Yesus Kristus (Kis. 2 : 42; Ef 2 : 20). Pengalaman iman para rasul menjadi landasan dalam ajaran gereja. Mengapa mereka? Karena kepada merekalah Roh Kudus berkenan untuk menyampaikan semua pengajaran tentang Injil Yesus Kristus. Gereja memercayai dan menerimanya. Untuk itu gereja yang sudah dibangun di atas ajaran para rasul ini mempunyai panggilan untuk meneruskan pemberitaan Injil Yesus Kristus.

Keempat ciri ini adalah identitas gereja. Persekutuan yang dihimpun oleh Roh Kudus yang mewujud pada ciri yang esa, kudus, katolik dan rasuli. Hanya dengan demikianlah gereja dilayakkan untuk membawa kabar baik, kabar keselamatan di dunia ini. Gereja ada dan diutus untuk menjadi wujud kehadiran Kerajaan Allah yang memanggil semua orang datang kepada keselamatan-Nya.

GKI sebagai gereja Tuhan Yesus menyadari secara penuh arti kehadirannya. Untuk itu secara serius GKI mewujudkan panggilan dan tugasnya dalam bentuk kelembagaan yang konkret di dunia ini. Bentuk kelembagaan yang muncul sejak gereja mula-mula di zaman para rasul dipahami sebagai wujud keseriusan gereja untuk menata persekutuan ini. Kelembagaan yang dilakukan ini adalah meliputi keanggotaan, penyelenggaraan ibadat dan pemberitaan Firman, penyelenggaraan sakramen, penyelenggaraan penggembalaan dan pengajaran, kepejabatan dan kepemimpinan gereja yang keseluruhannya diatur dalam sebuah tata gereja.

GKI baru saja merayakan HUT yang ke-29 pada tanggal 27 Agustus 2017. Sebagai gereja Tuhan yang diutus untuk menghadirkan Kerajaan Allah, apakah GKI tetap setia dan tekun, membiarkan Roh Kudus untuk terus membarui GKI? Apakah GKI setia dan tekun untuk melaksanakan tugas utamanya yaitu pemuridan? Apakah GKI setia dan tekun untuk memelihara dengan murni ajaran para rasul di tengah perkembangan dan banyaknya ajaran di masa kini?

GKI yang kehadirannya dari Batam, Pulau Jawa, Denpasar bahkan sedang merintis di Pulau Kalimatan apakah menjadi sebuah persekutuan yang memungkinkan bagi setiap orang di dalamnya mengalami proses pertumbuhan? Ciri gereja yang sehat adalah terus mengalami proses pertumbuhan. Setiap murid Kristus hanya dapat bertumbuh semakin serupa dengan Kristus, jika ia menolong orang lain untuk bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Pdt. Ellizabeth Hasikin - Penulis adalah Pendeta dengan basis Jemaat GKI Perumahan Citra 1