Duc In Altum (Bertolak Lebih Dalam)

Dalam Pelayanan Di GKI Kebonjati
Lukas 5
: 1-11

 

Dalam setiap hari kita tentu hidup dalam sebuah rutinitas yang kadang monoton, kadang penuh dengan sukacita, tak jarang penderitaan dan sebagainya. Bahaya dari rutinitas hidup sehari-hari ialah bahwa ia seringkali membuat kita tidak lagi memaknainya. Tampaknya itu jugalah yang terjadi dengan Simon Petrus. Sehari-hari, ia menjalani rutinitas sebagai nelayan di Danau Galilea. Dalam rutinitas hidupnya, Simon sangat bergantung dari berapa banyak ikan yang tersangkut dijalanya. Dia akan bersyukur bila hari itu ia mendapatkan sejumlah besar ikan, tetapi tak jarang, jalanya kosong dan tak seekor ikan pun tersangkut dijalanya. Dalam kondisi itu, ia akan pulang dengan kecewa atau mungkin juga biasa saja karena sudah sering seperti itu dan berharap besok hari tangkapannya akan lebih baik daripada hari sebelumnya. Demikianlah hidup yang ia jalani dalam keseharian sebagai nelayan.

Sampai suatu kali terjadi perjumpaan dengan Yesus. Injil Lukas mencatat karena begitu banyak orang yang mengerumuni-Nya, maka Yesus mencari tempat yang baik untuk mengajar. Ia melihat dua perahu di tepi pantai yang baru saja pulang menangkap ikan sepanjang malam, salah satunya adalah perahu Simon Petrus. Yesus segera naik ke perahu Simon dengan tujuan agar orang banyak tidak lagi mendesak Dia terus menerus, dan supaya orang banyak juga bisa melihat dan mendengar pengajarannya. Setelah selesai mengajar, Yesus pun berkata kepada Simon untuk bertolak ke tempat yang dalam (Duc In Altum) dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan. Simon tampaknya terkejut, sebab telah sepanjang malam ia menangkap ikan dan tidak berhasil. Dan tentunya perintah Tuhan sangat tidak masuk akal buatnya, bagaimana mungkin ia harus menangkap ikan diwaktu yang tidak tepat (bukan malam hari), maka tak heran Simon berkata, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa …” Simon agaknya protes, mempertanyakan, apakah Yesus sebagai Guru tidak tahu apa yang ia lakukan, ia bukan pemalas, ia sungguh-sungguh bekerja, dan memang ia tidak mendapat apa-apa dari kerja kerasnya tersebut. Namun, ditengah protesnya, Simon “si tukang protes” itu berkata,..., tetapi karena Engkau menyuruh-Nya, aku akan menebarkan jala juga.”

Maka setelah ia menolakkan perahunya lebih dalam, ia menebar jala dan menangkap sejumlah besar ikan. Jala mereka mulai koyak tidak mampu lagi menarik ikan-ikan tersebut, bahkan perahu-perahu mereka mulai hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu, tersungkurlah ia di depan Yesus, ia takjub atas apa yang terjadi, lalu Petrus merasa dirinya berdosa (tidak sempurna). Tetapi Yesus menguatkan Petrus dengan berkata, Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Setelah sampai di darat, Petrus menghela perahu-perahunya ke darat, mereka meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini?

  1. Dalam keseharian hidup yang kita jalani, mungkin kita mengalami kejenuhan (Burn Out) dan sebagainya, bahkan dalam pelayanan yang kita lakukan. Sepertinya apa pun yang kita kerjakan sudah dengan baik dan dengan kerja keras, tetapi jangan-jangan kita merasa seperti Petrus “tidak mendapat apa-apa” dari apa yang kita kerjakan.” Pertanyaan pentingnya, sudahkah Yesus ada di “perahu kehidupan” saudara? Jangan-jangan apa yang kita kerjakan tidak bermakna malah melelahkan kita sebab Yesus memang tidak pernah hadir atau tidak pernah saudara undang untuk ada di perahu hidup saudara.
  2. Maka, mengundang Yesus hadir dalam perahu hidup kita menjadi hal yang penting, dan ketika kita mengundang Yesus dalam perahu hidup kita justru Yesus mengundang kita untuk “bertolak lebih dalam” (Duc In Altum). Banyak di antara kita jika memasuki masa akhir pelayanan merasa seperti akan bebas dari sebuah tanggung jawab berat, tetapi justru, dalam setiap kesempatan yang kita miliki, Yesus selalu mengajak kita untuk “bertolak lebih dalam”, seakan apa yang Tuhan perintahkan itu berat dan mustahil kita lakukan. Namun, belajarlah seperti Petrus, meskipun kadang kita maunya mengeluh dan merespon perintah itu, tetapi ketika berserah dan mengikuti apa yang Tuhan perintahkan maka perjalanan dan pengalaman menjalani hidup bersama Tuhan akan membuat kita merasa terus takjub akan pemeliharaan Tuhan.
  3. Perasaan takjub atas berkat tersebut akan memunculkan rasa syukur dan juga kesadaran bahwa kita bukanlah orang yang sempurna (bahkan berdosa) yang membutuhkan pemulihan dari Tuhan. Oleh sebab itu, rasa takjub dan perasaan sebagai manusia berdosa mendorong kita memiliki keinginan untuk mengenal Tuhan lebih dalam. Maka, dari perasaan takjub dan perasaan tidak sempurna, ajakan untuk menjadi penjala manusia akan dengan segera direspon, karena kita ingin belajar lebih dalam mengenal Tuhan. Barangkali perkataan Petrus atau kita sekarang adalah,Kami sudah bekerja keras bagi Tuhan, dan kami mendapatkan banyak hal yang menakjubkan bersama-Nya.”

Jadi, adakah alasan lain untuk tidak menerima ajakan Tuhan untuk berkarya bagi-Nya? Jika tidak ada, mari bertolak lebih dalam untuk melayani Tuhan dalam keseharian kita.

Tuhan memberkati kita. Amin.

(Agus Gunawan)