Diakonia Lintas Batas


Efesus 2 : 11-22

 
Aristides, seorang tokoh Kristen dari Athena, pernah mengirim surat kepada Kaisar Romawi Hadrianus ketika sang kaisar berkunjung ke Athena pada tahun 125 M. Dalam suratnya tersebut, Aristides memuji-muji orang-orang Kristen karena mereka memperlakukan semua anggota jemaat sebagai sesama manusia yang sederajat dan saling memanggil dengan sebutan “saudara”, sebuah panggilan yang sangat radikal dan provokatif di masa ketika masyarakat masih mempraktikan perbudakan.
Aristides juga menyatakan dalam suratnya bahwa orang-orang Kristen mengaitkan praktek puasa dengan praktik diakonia. Kalau ada orang Kristen yang sangat miskin sehingga tidak mampu membeli makanan, maka orang-orang Kristen lainnya di jemaat tersebut akan berpuasa secara bergiliran agar makanan yang mereka miliki bisa dibagikan kepada saudara-saudara yang miskin. Kesaksian tersebut adalah sebuah kesaksian nyata tentang kehidupan orang-orang Kristen yang saling mengasihi satu dengan yang lain. Bahkan dalam Kisah Para Rasu 11, digambarkan solidaritas itu diwujudkan melampaui batas-batas gereja lokal. Jemaat Anthiokia mengumpulkan sumbangan untuk membantu Jemaat Yerusalem, karena Jemaat Yerusalem terancam bencana kelaparan. Kasih itu bukan saja diimani, tetapi juga di praktikan secara konkret lintas batas.
Diakonia Lintas Batas membutuhkan praktik iman dan kasih yang melampaui status, kedudukan, suku, ras dan bahkan agama. Kasih Allah yang dinyatakan melalui karya Yesus tidak mengenal batas dan tanpa batas. Sebagai gereja, kita seringkali terjebak dalam batas-batas seperti batas keanggotaan salah satunya. Praksis Diakonia gereja seringkali terbentur pada status anggota atau bukan anggota. Paulus mengingatkan bahwa Kristus telah memberikan hidup-Nya untuk mempersatukan orang Yahudi dan bukan Yahudi dalam satu keluarga Allah (Ef. 2 : 15). Allah mengasihi dan mencintai semua orang. Tidak ada penghalang bagi Allah untuk menyatakan cinta-Nya kepada semua manusia. Lalu, mengapa kita memberi batas pada kasih Allah? Mari kita mempraktikkannya diakonia lintas batas ini ketika diperhadapkan dengan sesama yang membutuhkan. Amin.

 

Pnt. Agus Gunawan