Damai Sejahtera

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Yohanes 14 : 27

Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” Kolose 3 : 15

Gambar dari Google


“Ayo kita berdamai!”, sebuah kalimat diucapkan setelah pertengkaran terjadi atau ada hal yang tidak mengenakkan terjadi. Tangan terulur dan kemudian bersambut dengan tangan orang lain yang bertengkar dengan kita. Seseorang atau keduanya tidak menginginkan suasana yang “panas”, suasana yang penuh dengan kecurigaan, rasa marah, dendam terjadi berlarut-larut.

Lalu apakah makna damai itu seperti makna damai sejahtera? Damai Sejahtera dalam bahasa Ibrani adalah “Shalom” yang menunjuk kepada bukan hanya tidak ada perang, tidak ada pertentangan, tetapi bahkan memiliki makna yang lebih daripada itu :

  1. Ketenangan, ketentraman dalam hubungan antar bangsa, negara.
  2. Keselarasan dan keutuhan baik dalam hubungan dalam keluarga maupun dengan sesama manusia.
  3. Perasaan seseorang yang merasa bahwa tidak ada kekuatiran, iri, dendam, sombong (merasa harus lebih daripada orang lain).
  4. Memiliki hubungan yang dekat dengan Allah.

Sebagai contoh tentang kisah Adam dan Hawa yang jatuh dalam dosa. Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka kehilangan damai sejahtera. Mereka bersembunyi, menghindar ketika mendengar “langkah Allah” yang dulunya memiliki hubungan dekat, tetapi mereka kemudian menjauh. Dan bukan hanya itu, hubungan antara suami istri pun menjadi tidak baik ketika Allah mempercakapkan tentang dosa mereka. Adam menyalahkan Hawa (Kej. 3:12), Hawa menyalahkan ular (Kej. 3:13). Konsekuensi dosa pun mengikuti setiap perbuatan dosa yang dilakukan.

 

Lalu bagaimana kita mendapatkan damai sejahtera?

  1. Dalam Rumah Tangga, penyelesaian masalah lebih penting daripada mempersalahkan pihak lain. Hal serupa itu juga terjadi didalam kehidupan rumah tangga ketika terjadi masalah, yang seringkali terjadi tidak mencari penyelesaian masalah tetapi yang dicari siapa “biang keladi/penyebabnya”. Sebaliknya sesungguhnya manusia juga lebih suka menggunakan alasan “ular/iblis” yang menyebabkan mereka bersalah daripada mengakui kesalahan yang diperbuat. Atau mencari alasan-alasan, hal-hal yang dapat membenarkan mereka. Oleh karena itu setiap ada masalah, carilah penyelesaian/jalan keluar yang terbaik bagi kebaikan bersama yang mendatangkan damai.
  2. Dalam hubungan sosial, mencari kesamaan dan menjalin hubungan kerjasama yang baik. Manusia memiliki berbagai ragam perbedaan dan juga kesamaan. Ketika perbedaan dibenturkan dan kemudian diwarnai dengan rasa iri, benci, dendam, sentimen pribadi, bahkan cerita-cerita yang belum tentu benar akan menyebabkan kita justru lebih banyak memiliki musuh daripada sahabat. Tetapi bagaimana kita menemukan damai sejahtera adalah dengan mencari kesamaan yang pasti kita temukan dan menjalin kerjasama yang menghasilkan kebaikan bersama.
  3. Dalam hubungan dengan Tuhan. Kita mendekatkan diri kepada Tuhan dan melihat wajah Tuhan dalam setiap sesama kita terutama yang membutuhkan pertolongan. Setiap peristiwa kehidupan kita, kita memaknai ada karya Tuhan di dalamnya. Sehingga kita tidak pernah merasa menjadi orang yang paling pandai, paling sukses, paling benar, paling hebat. Betapa pun keras usaha manusia, tanpa anugerah dan pertolongan Tuhan maka semuanya akan menjadi sia-sia saja. Keberhasilan kita buah dari kerja kita dan anugerah Tuhan. Sehingga semakin kita memiliki rasa syukur kepada Tuhan, semakin kita bisa menyerahkan rasa kuatir akan masa depan ke dalam tangan Tuhan dan semakin kita bisa menghargai nilai iman, ibadah, doa dan juga wajah sesama kita yang mencerminkan wajah-Nya. Selamat menikmati damai sejahtera-Nya.

Pdt. Agnes Irmawati Sunjoto Lukardie