Cukuplah Kasih Karunia-Ku Bagimu

 
II Korintus 12 : 9a
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
 
Siapa yang pernah merasa cukup untuk menerima kasih karunia Tuhan? Kalau mau jujur jawabannya adalah tidak ada. Setiap orang ingin mendapatkan terus kasih karunia Tuhan yang ajaib dan indah itu. Semakin banyak maka semakin bahagialah hidup, sangka kita. Namun, apakah benar kasih karunia itu identik dengan berkat melimpah, kesehatan di usia senja, kesuksesan di dunia usaha, dan lainnya yang dianggap sebagai keberhasilan dari kacamata dunia?
Paulus merupakan rasul yang memiliki karunia-karunia yang luar biasa. Ia dipakai Tuhan dalam memberitakan Injil, menulis kitab-kitab dan membuka gereja-gereja baru. Seorang rasul yang sangat berhasil. Bahkan Tuhan mempercayakan kepadanya karunia-karunia rohani dan mengadakan mujizat. Sapu tangan yang pernah digunakan oleh Paulus, bila diletakkan pada orang sakit maka orang itu menjadi sembuh.
Akan tetapi, di tengah segala karunia yang luar biasa itu, ternyata Paulus diijinkan Tuhan untuk hidup dalam kelemahan. Ada ‘duri’ (entah penyakit atau lainnya) yang bersarang di dalam dagingnya, yang tidak disembuhkan meskipun berulang kali ia berdoa. Bayangkan seorang yang dipakai Tuhan menyembuhkan orang-orang yang sakit, tetapi dirinya sakit dan Tuhan tidak menyembuhkan. Paulus menyebut penyakit ini sebagai ‘duri dalam daging’ supaya ia tidak memegahkan diri.
Apakah saat ini kita sedang mengalami duri dalam daging? Di satu sisi kita mengalami karunia Tuhan, tetapi di sisi lain kita sedang mengalami pergumulan hidup yang tidak ringan. Entah itu masalah keuangan, pekerjaan dan sakit penyakit. Sudah berdoa sungguh-sungguh, tetapi jawaban doa belum datang. Di tengah segala pergumulan itu, ada berita penghiburan dan kekuatan yang namanya “kasih karunia” Tuhan.
 
Kasih karunia Tuhan memampukan kita untuk bersyukur.
Kasih karunia Tuhan memampukan kita untuk menjadi berkat sekalipun dalam pergumulan.
Kasih karunia Tuhan memampukan kita untuk tetap kuat.
Kasih karunia Tuhan memberikan pengharapan yang indah akan hari esok.
Kasih karunia Tuhan mendatangkan sukacita di tengah-tengah penderitaan.
 
Ya, kasih karunia Tuhan itu cukup bagi kita. Sudahkah kita hidup dan mengalami kasih karunia-Nya? Kuatlah dan teguhlah, kasih karunia Tuhan menyertai kita semua. Amin.
 
 

Pdt. Timothy Setiawan