“Berkembang Karena Tantangan”

(Roma 5 : 1-11)

Bagaimana kita dapat berkembang pada saat kita memiliki masalah hidup?

Wilma Rudolph dilahirkan dari sebuah keluarga miskin di Tennesse, Amerika Serikat. Di usianya yang ke 4, dia diserang beberapa jenis penyakit, yaitu radang pada saluran pernapasan dan demam berdarah, sebuah kombinasi yang mematikan. Ia juga lumpuh karena penyakit polio yang dideritanya. Karena itu, ia harus menggunakan alat penyangga bagi tubuhnya dan dokter mengatakan bahwa ia tidak akan pernah bisa menginjak atau berjalan dengan kedua kakinya. Namun ibunya terus memberinya dorongan dan semangat. Ia mengatakan kepada Wilma bahwa Tuhan telah memberinya segala kemampuan, ketekunan, daya juang, dan iman untuk melakukan dan mencapai apapun yang ia inginkan. Tanpa disangka Wilma lalu berkata : “Saya ingin menjadi pelari wanita tercepat di Bumi ini.”

Di usianya yang ke 9, ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nasihat dokter, ia melepaskan alat penyangga tubuhnya dan mulai mencoba melangkah, sesuatu yang menurut dokter  tidak akan pernah bisa dilakukannya. Di usianya yang ke 13, ia memutuskan untuk mengikuti sebuah lomba lari. Hasilnya, ia berada pada urutan yang paling akhir dari semua peserta lomba. Tidak merasa putus asa, ia mendaftarkan diri untuk lomba yang kedua, ketiga, keempat dengan hasil yang tetap sama, ia berada pada urutan paling akhir dari semua peserta lomba.

Dengan optimisme dan semangat juang yang tidak mengenal menyerah, ia mengikuti lomba lari yang kelima dan hasilnya ia berhasil menjadi pemenang, suatu prestasi yang luar biasa.

Di usianya yang ke 15 ia masuk Tennesse State University dan bertemu dengan seorang pelatih yang bernama Ed Temple. Wilma berkata kepada Ed Temple bahwa ia ingin menjadi pelari tercepat di dunia. Melalui proses yang panjang, Wilma terpilih menjadi salah satu anggota tim olimpiade, suatu ajang pertemuan para atlet terbaik dunia. Wilma ditempatkan bersama pelari wanita lain yang belum pernah terkalahkan. Ia bernama Jutta Heine. Lomba pertama yang diikutinya adalah 100 meter lomba lari putri. Di situ secara mengejutkan ia masuk babak final dan untuk pertama kali ia mengalahkan Jutta Heinne. Ia menerima medali emas pertamanya di arena olimpiade. Pada lomba 200 meter putri, ia kembali mengalahkan Jutta Heinne untuk kedua kalinya dan mendapatkan medali emasnya yang kedua.

Lomba berikutnya 400 meter estafet putri. Dalam lomba estafet, pelari tercepat selalu ditempatkan pada lap terakhir, Wilma dan Jutta Heine sama-sama berperan sebagai jangkar pada tim masing-masing. Ketika tiba giliran Wilma menerima tongkat estafet, tongkat terlepas dari tangannya dan jatuh. Pada saat yang sama Jutta Heine telah melejit ke depan. Wilma mengambil tongkat yang jatuh dan berlari bagaikan angin, dan untuk ketiga kalinya ia mengalahkan Jutta Heine, musuh bebuyutannya. Wilma dan timnya memenangkan medali emas dan itu menjadi medali emas ketiga baginya. Ia menciptakan sejarah, wanita yang tadinya lumpuh menjadi wanita tercepat di bumi pada olimpiade tahun 1960.

 

Mungkin banyak orang akan menyerah dan menyalahkan faktor nasib ketika mereka berada dalam posisi Wilma. Namun, Wilma tidak demikian. Dia tidak sedikit pun mengizinkan kesulitan menghalanginya dalam meraih impiannya. Fisiknya memang lumpuh, tetapi dia tidak mengizinkan kelumpuhan fisik melumpuhkan pikirannya. Kemerdekaan yang paling hakiki dari manusia tidak terletak pada keadaan fisik semata, namun pada pikirannya.

Dalam rangka mengabarkan Injil/Kabar Sukacita bagi Jemaat-jemaat Kristen di kota Roma, Paulus menemukan adanya hambatan dan tekanan yang menjadi masalah. Hambatan bagi Jemaat Kristen di Roma adalah : ketidaksehatian antara orang Yahudi Kristen dan penganut agama Yahudi. Adanya pemahaman bahwa orang-orang Kristen bukan Yahudi menganggap mereka memiliki posisi yang lebih “kuat” dari pada orang-orang Yahudi Kristen (lemah) karena ada benturan hukum Yahudi itu (tentang Sunat yang bagi orang Yahudi Kristen sudah tidak diperlukan lagi, tapi bagi orang Yahudi mereka tetap menekankan Sunat sebagai aturan yang harus diikuti).

Paulus mengatakan bahwa ada peluang yang membuat kita dapat percaya pada Kristus, yaitu :

  1. Dibenarkan dalam iman : (Rom. 5:1) Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Bagi semua orang, baik Yahudi maupun bukan Yahudi sama-sama dibenarkan karena iman. Pembenaran bukan karena hasil perbuatan kita, tetapi karena kasih anugerah Allah semata. Karena pembenaran itu hidup kita berada dalam hubungan yang damai dengan Allah oleh Yesus Tuhan kita (Dia menjadi Penebus dosa kita). Pembenaran/Pendamaian ini membuat hidup dengan Allah dan sesama berada dalam suasana yang damai juga. Ini dasar yang kuat untuk melanjutkan usaha PI.
  2. Bermegah dalam Allah : menyanyikan puji-pujian yang memuliakan nama-Nya, percaya penuh.

Karena kesengsaraan bagi orang-orang beriman akan melahirkan Pengharapan (seperti Musa melihat dari puncak gunung tanah perjanjian Kanaan), Kesengsaraan menimbulkan ketekunan (menahan dengan penuh kesabaran). Dan Pengharapan kita tidak akan membuat kita malu karena kasih Allah telah dicurahkan kedalam hati kita. Oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Masalah itu hambatan atau tantangan? Hambatan = ikatan, menghambat, mengikat. Tantangan : rindu lepas, punya cita-cita dan harapan. Beth Moore mengatakan, “Kita terperangkap pada hal-hal apa pun yang dapat membuat kehidupan kerohanian yang efektif dan berlimpah dari Allah, menjadi tersumbat (menjadi hambatan) dalam dirinya.”

Jika kita ingin berkembang tetapi ada hambatan, maka kenalilah bentuk hambatan apa yang ada, bawalah itu dalam doa dan harapan kita kepada Tuhan. Relasi Allah dengan kita adalah relasi Kasih yang menyelamatkan, memerdekakan dan membebaskan. “Relasi “Percaya” kepada Tuhan akan meneguhkan, yakin dan dapat bertahan. Gereja terpanggil untuk menguatkan orang-orang yang belum percaya.”

Tuhan tolong aku yang tidak percaya ini.” (Mrk. 9: 24).

Pdt. Daud Solichin