Bekerjalah Demi Kerajaan-Nya

Selamat Tahun Baru 2019! Rasanya belum terlalu lama expired-nya ucapan saya ini. Setelah kita bersibuk-ria dengan banyak acara -sekaligus liburan- pada Natal hingga akhir tahun, tiba saatnya bagi kita menyambut Tahun Baru. Tahun Baru ini tentu saja tidak hanya kita sambut dengan mengganti kalender baru namun juga dengan semangat baru dalam bekerja (ah, tentu semangat saja pun tak cukup). Bekerja dan beristirahat/berlibur adalah siklus hidup manusia; keduanya harus kita hormati. Setelah kita melakukan keduanya dengan benar, keduanya punya kepuasannya sendiri-sendiri yang tidak dapat ditukar-tukar.

Bekerja adalah panggilan hidup manusia sebagaimana Allah sendiri juga bekerja. Alkitab dibuka dengan aktivitas Allah yang bekerja: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Kepada segala makhluk hidup, Allah memerintahkan kepada mereka untuk bekerja: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda …” (ay. 11). Kepada matahari, Allah mengamarkan untuk menguasai siang; sementara bulan untuk menguasai malam (ay. 16). Burung-burung disuruhnya beterbangan di udara dan ikan-ikan berenang di lautan - dan diperintah-Nya mereka untuk berkembang biak (ay. 20-22). Tidak ketinggalan dengan ciptaan-Nya yang bungsu: manusia; diperintahkan-Nya mereka mengusahakan dan memelihara taman Eden (ay. 15).

Kristus datang ke dalam dunia dengan proklamasi: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!” Kristus datang ke dalam dunia dengan satu agenda besar: yakni mendatangkan Kerajaan Allah. Kita mengaminkan dengan berujar dalam doa kita: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Kristus datang membawa Injil Kerajaan Allah bagaikan pedang bermata dua: mata kekekalan dan mata kekinian. Kekekalan adalah keselamatan bagi jiwa kita sehingga “... setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Kekinian adalah “... menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin ... memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk. 4:18-19; bdk. 7:22). Yesus mampu merelasikan pekerjaan-Nya dengan pekerjaan Bapa-Nya: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 15:17).

Ma ka jika kita memandang pekerjaan -entah di gereja, rumah, kantor, lapangan, toko, jalan, dsb- sebagai sesuatu yang terlalu membebani, tidak mendatangkan sukacita, menyiksa; lalu memandang liburan sebagai sebuah pelepasan dari penderitaan, maka kita perlu membuat refleksi yang serius. Demikian pula jika pekerjaan menjadi candu bagi jiwa kita seolah-olah nilai hidup kita semata-mata ditentukan dari pekerjaan (doing) dan bukan siapa diri kita (being), maka refleksi yang sama seriusnya layak dilakukan demi kesehatan jiwa kita, dan demi penemuan makna hidup kita. Sama celakanya jika pekerjaan itu semata-mata kita jalani demi pemenuhan kepentingan diri yang tak mengenal kata “puas”.

Gereja sebagai wujud kehadiran Allah dalam dunia mendapatkan amar dari-Nya untuk bekerja. Itulah sebabnya jemaat-jemaat merencanakan dan melaksanakan program kerja -yang dalam tradisi GKI diawali setiap bulan April- dan biasanya disertai dengan peneguhan anggota Majelis Jemaat yang baru. Tanpa kerja, eksistensi gereja tidak akan bermakna (meski bekerja pun belum tentu menjadikan gereja bermakna). Apa ciri-cirinya sebuah gereja yang bekerja seperti dikehendaki Allah?

Ia harus memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Kerajaan dunia mempromosikan kasih dan nilai diri dengan banyak syarat; kita memperkenalkan kasih tanpa syarat dari Kristus. Kerajaan dunia demen dengan materialisme; kita singkapkan ilusi yang diciptakan olehnya. Jika kerajaan dunia memaknai dan memakai kekuasaan untuk kekayaan dan popularitas diri, maka kita tunjukkan bahwa kekuasaan adalah alat untuk melayani. Kerajaan dunia tidak memberikan tempat bagi mereka yang dianggap miskin, lemah, bodoh dan cacat; kita berikan mereka rasa kemanusiaan karena mereka layak mendapatkannya. Kekayaan alam digerogoti demi meladeni nafsu kerajaan dunia yang tak pernah terpuaskan, kerajaan Allah mengajarkan bagaimana respek terhadap alam.

Masalahnya, bagaimana agar dunia dapat mengenal Kristus dan merasakan kehadiran Kerajaan-Nya? Bagaimana agar kabar baik itu sampai di hati manusia? Bagaimana agar kebenaran dan keadilan itu dapat diam di tengah-tengah manusia? Kitalah sebagai gereja yang harus bekerja! Kitalah yang menjadikan “mimpi-mimpi utopis” ini menginjak bumi! Pertanyaan refleksi bagi kita semua: mampukah kita merelasikan kerja harian kita dan program kerja GKI -dalam semua lingkupnya- dengan program-Nya Kristus? Seberapa dekatkah dengan-Nya? Atau malah, seberapa jauhkah?

 

 

* Penulis adalah Sekretaris Umum BPMK GKI Klasis Priangan

Pdt. Andi Gunawan