Aku Dan Disabilitas

Apa itu disabilitas? Awalnya aku juga tidak tahu. Sama seperti yang lainnya, awalnya istilah itu juga sangat asing untukku. Karena sedari kecil, Papi dan Mami memperlakukanku sama seperti saudara-saudaraku yang lainnya.

Namaku Yosellin Nathania Yusak Silalahi. Teman-teman dan orang terdekat biasa memanggilku Sellin. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, aku terlahir ke dunia ini pada suatu siang, 26 tahun yang lalu. Aku dilahirkan dengan suatu kondisi yang bernama Cerebral Palsy (CP). CP adalah kelumpuhan yang terjadi pada saraf motorik yang menyebabkan aku tidak mampu untuk mengkonversikan dengan sempurna perintah dari otak untuk menjadi tindakan.

Kalau akhirnya kini aku mampu melakukan sendiri 90% kegiatan sehari-hariku, aku melaluinya dengan proses latihan yang sangat panjang. Kegagalan adalah hal yang biasa untukku. Perasaan ingin menyerah adalah godaan dan tantangan terbesar untukku. Berulang kali saat aku mengalami kegagalan, godaan untuk menyerah pada keadaan adalah sangat besar. Namun, aku sungguh bersyukur karena Tuhan menganugerahkanku sebuah keluarga yang sangat mensuport apa yang aku kerjakan hingga saat ini.

Sedikit cerita tentang perjalanan studi akademikku, sejak TK hingga SMA, aku bersekolah di sekolah reguler (bukan SLB). Lalu aku juga sempat kuliah di salah satu Sekolah Tinggi Teologi (STT) yang ada di Bandung (kini sudah selesai). Tentu saja ada banyak tantangan yang aku hadapi sepanjang perjalanan studi tersebut. Tantangan terbesar bagiku adalah saat aku duduk dibangku SMP. Pada masa itu aku baru tersadar bahwa kondisiku berbeda dengan teman-teman pada umumnya.

Di titik itulah, aku melakukan protes keras pada Tuhan! Aku merasa telah “ditipu” oleh semua pihak: Guru Sekolah Minggu, Orang Tua, keluarga besar dan tentu juga oleh Tuhan sendiri. Sebab selama ini (sebelum masuk SMP), baik keluarga maupun Guru Sekolah Minggu selalu berkata bahwa aku tidak berbeda dari teman-teman lainnya. Tapi nyatanya tidaklah demikian, jelas terlihat kalau kondisiku berbeda dari teman pada umumnya. Pada masa SMP juga aku mengalami banyak perundungan.

Ada satu peristiwa perundungan yang tak bisa aku lupakan hingga kini: Ada seorang teman mengatakan bahwa aku adalah mayat hidup. Kata-kata itulah yang membuat kemarahanku memuncak pada Tuhan. Dalam kebingungan, aku berkata: “Kalau memang Tuhan sayang padaku, mengapa Engkau menciptakanku dengan kaki yang lengkap tetapi kaki ini tidak dapat dipakai untuk berjalan? Apa gunanya kaki ini, Tuhan?!!!” Dapat dikatakan, inilah titik terrendah di hidupku. Tetapi sekali lagi aku bersyukur pada Tuhan, sebab dalam situasi sedemikian pun Tuhan menunjukkan kasih-Nya padaku dengan hadirnya orang-orang yang tetap mengasihi aku sebagaimana keadaanku.

Singkat cerita, akhirnya aku berhasil berdamai dengan diriku, aku berhasil menerima kondisi yang aku miliki ini. Ternyata dampaknya luar biasa! Setelah aku berdamai dengan kondisi ini aku merasakan kelegaan yang utuh. Mulai saat itu hingga hari ini, hari-hari di hidupku terasa lebih bermakna dan aku dapat merasakan kasih Tuhan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setelah mampu menerima diri dan kondisiku seutuhnya, aku kemudian terdorong untuk mengenal CP lebih dekat.

Aku menjadi akrab dengan berbagai artikel mengenai CP. Banyak hal yang akhirnya aku ketahui tentang Cerebral Palsy: Aku jadi tahu bahwa ada yang namanya hari CP sedunia. Hari CP sedunia diperingati pada hari Rabu pertama di bulan Oktober (World Cerebral Palsy Day). Selain itu, aku juga jadi tahu bahwa setiap tanggal 3 Desember diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional. Masih banyak lagi informasi lain terkait disabilitas yang akhirnya aku ketahui karena banyak membaca.

Dengan luasnya wawasan yang aku miliki, aku dimampukan untuk menolong orang dengan disabilitas yang lain. Aku merasa bertanggung jawab untuk menyemangati mereka dan membantu membuka mata fisik dan mata batin mereka bahwa sesungguhnya kita semua adalah makhluk yang terbatas.
 


 

Disabilitas sebenarnya tidak bicara soal kami saja
(setiap anak/insan yang disabilitasnya
terlihat secara kasat mata/visible disability)
tetapi juga berbicara tentang semua orang.
Sebab kita semua tentunya memiliki keterbatasan,
hanya saja mungkin keterbatasan yang dimilikinya itu
masuk ke dalam golongan invisible disability
(disabilitas yang tak terlihat secara kasat mata)
- Yosellin Nathania Yusak Silalahi -

 

Salam syukur,
Yosellin Nathania Yusak Silalahi
(Simpatisan GKI Kebonjati)

 

 

Yosellin Nathania Yusak Silalahi (Simpatisan GKI Kebonjati)